Minggu, 06 Desember 2009

Galau

kutitipkan galau hatiku pada gemericiknya air hujan
coba bercengkerama pada dinginnya pagi
tenggelamkan setiap benih kesadaran dalam diam
wahai hujan, ceritakanlah padaku
sebuah episode tentang cinta sejati
sepasang kekasih yang terpisah dalam rentang waktu dan tempat
tapi, andai Kau tahu
waktu dan tempat tak sempat membelenggu jiwa yang melambung
pada asa yang terlukis di rendaanMu
kegalauan ini makin menyakitkan
hati tercabik dalam sunyi
nyanyian seakan sebuah himne yang aku sendiri tidak tahu
setiap gemericik air
kuingin dengarkan setiap harapan yang kan kujelang
walau galau ini tetap ada dan tak pupus

Rabu, 02 Desember 2009

Kan Ku Ukir

ingin ku ukir deretan kata rindu pada gemericik air
rindu akan samudera
rindu akan penerimaan diri total
ingin ku ukir desah cintaku pada gemerisik angin
cinta tak terbatas ruang dan waktu
cinta lengkapi bejana yang kosong
ingin ku ukir desah hasratku pada baranya api
hasrat akan anggur merah pesta
hasrat berpendar dalam siluet cakrawala
ingin ku ukir jejak hidup pada tubuhMu
jejak yang jatuh, terjerembab, bangun, dan berdiri
jejak yang tak pernah sia-sia
jejak dalam pahatan karyaMu
ingin ku ukir namaku dalam hatiMU
nama yang hanya Engkau dan aku yang tahu
nama yang jadikan mantera setiap hidup ini diperjuangkan
nama yang saatnya kan kembali dalam tanganMu

JELITA

duhai jelita yang kucinta
wangi tubuhMu bagai bunga yang mekar di musim semi
singgahi setiap imaji dalam kekal
merdu suaraMu bagai kidung bala surga
ronakan tiap relung hati yang mencinta
membeku dalam indah pelangi
duhai jelita yang kurindu
masih kurasa saat pagi Kau kecup hatiku
rindingkan sukma bagai gejolak ombak di ujung musim
gelorakan api yang ingin membuncah dalam diam
duhai jelita,
ingatkah saat senja dan saat semilir angin terbangkan asa
janji di depan altarMu
singgahi setiap dermaga kehidupan

Selasa, 01 Desember 2009

Akhirnya

genggam hatiku saat kau goyah
memang, musim di tahun ini tak bersahabat
menorehkan luka di mana-mana
teruskanlah baca mantera
yang diwariskan leluhur kita
sibak segala kehampaan dalam kekinian
sobat, jika bekal di perjalanan nanti habis
dan saat burung prenjak bernyanyi di pekarangan leluhur
mungkin, sukma kan bersatu dalam tubuh yang baru

Perjalanan Dalam Hening

diam
bernafas
pikiran berlari dan berkejar-kejaran
coba diam
atur nafas
pikiran menggelayut manja di ufuk timur
tetap diam
nafas perlahan
pikiran tenang, surga pun nampak
diam tak terbatas
nafas melambat
pikiran tak ada, surga lenyap
diam yang kekal
nafas tak ada
tiba-tiba aku tlah di depan pintuMu

Kontemplatif

adakah tawa dalam tangis
adakah manis dalam pahit
adakah warna dalam gelap
adakah harapan dalam kesesakan
adakah penantian dalam kegelisahan
adakah iman dalam kejahatan
adakah kesucian dalam kesesatan
adakah cinta dalam benci
yang pasti, aku percaya
kita telah terombang-ambing
dalam ketidakpastian
jadi, siapakah kita sebenarnya ?

Titik Malam Nanti

di ujung malam nanti
mungkin ada doa, mungkin ada surga
buat pertapa yang rindu kesunyian
coba padamkan segala hasrat yang sesaat
rinduku padaMU
bagai air di ujung ilalang
mencoba bertahan dalam ketidakpastian dunia
bernyanyi walau suara kadang hanya kelu di tenggorokan
akhirnya
rindu ini ingin kugoreskan dalam sunyi
dan,
jika tertidur aku mau Kau bangunkan sadarku

Minggu, 29 November 2009

Sajak Zig Zag

s
e
p
e
r
t
i
udara isi relung hatiku
k
a
n
g
e
n
kian sebarkan gundah di setiap nafas
k
e
k
a
s
i
h
peluk aku dalam dekapan cinta sucimu.

Dekaplah Aku Wahai Pagi

dekaplah aku wahai pagi
sirami dengan kidung yang pernah kita nyanyikan waktu gerimis musim hujan
bibirmu coba sapu kangenku
dekaplah aku wahai pagi
jangan cepat beranjak walau mentari terlukis di awan putih
pelukmu bagai pelukan bayi terhadap ibunya enggan terpisah walau sesaat
dekaplah aku wahai pagi
leburkan sukma dan kasih
hingga cinta terpatri dalam episodeNya

Selasa, 24 November 2009

Pagi 1

kepada pagi ,
kupersembahkan hati yang telah utuh lagi
kudaraskan setiap doa dalam lekukan nafas
heningkan dan endapkan dalam secangkir kopi ini
siluet pelangi tergambar dalam tetesan embun
pancarkan hati yang kasmaran padamu
kepada pagi,
kutitipkan sayap tuk kekasihku
jika nanti mentari tersenyum
ingin dia disisiku lagi
bercerita tentang cinta sejati ini.

Ku Coba

ah, Kau menggodaku lagi
dengan mataMu yang selalu mengerjab
dengan tarian tubuhMu yang goyang imajiku
dengan senyum yang sungging di mulutMu
ah, sayang
aku pun tak kuasa
saat Kau mengajakku nikmati
reguk segala tawa dan ria
dalam meditasiku,
aku coba bertasbih dalam sepi
mengidungkan bersama bala surgawiMU
dan mengartikan jalan hidup yang tak bertepi.

Selasa, 17 November 2009

Malam

malam, aku lapar pada bayangmu
gapai setiap rintik hujan musim ini
tuk renda kenisbian yang kekal
masihkah daun yang kering itu terbang tertiup angin
ataukah tetap berpegang pada dahan yang tua
malam janganlah pergi
walau pagi akan menyapa
kikis bayangmu yang kuinginkan

Senin, 16 November 2009

Kangen

sungguh aku tersiksa
rindu yang terpatri dalam sayang
menggelora bergulung dalam hasrat
andai oase itu nyata
kugapai dirimu tak kulepas lagi

Rabu, 11 November 2009

Hidup

lahir, mencium sumber air kehidupan
jatuh, mencium ibu pertiwi
bangun, mencium udara pagi
berjalan, mencium hangatnya mentari
sakit, mencium putihnya harapan
mati, mencium tanganMu

Kabut Itu Memang Mengganggu

kau pun tumpahkan tangis saat gerimis pagi ini
penyesalan bagai pisau karat yang tancap jantungmu
coba jahit robekan sisa-sisa jejak yang tertinggal di hutan pinus
saat kulihat matamu,
seakan kabut kian menebal
gerogoti jiwa beku yang tidur di tubuhmu
sobat,
andai kesetiaan diganti dengan hamburnya fatamorgana
masihkah penantian masih setia di terasmu ?
coba gapai mimpi di bekunya senja yang memutih?
sudahlah sobat,
tubuhmu sempoyongan karena kebanyakan bir yang racuni jiwamu
tidak mungkin gagak diganti nuri impianmu
sudahlah,
kabut itu memang ganggu hidupmu
cobalah berguru pada sepi kesunyian di senja nanti
percayalah, pasti ada jalan setapak yang tuntun hidupmu lagi. semoga

Senin, 09 November 2009

Karena Helai Burung

rembulan tadi malam bercerita padaku
sebuah sajak usang yang kini terusik
sebuah helai sayap burung membuat nadir sepinya
kawan, adakah cinta yang tak berbekas saat luka mengalir nan deras?
merahkan segala hasrat yang tenggelam dan beku ?
ataukah helai sayap itu koyakkan nurani
hingga mimpi kadang ganggu tidur setiap malam?
kawan, hilangkan helai sayap ini
bakarlah dalam tungku perapihanmu
hancur lebur dalam kebekuan deras hujan musim ini
aku pun berusaha tuk bantu sahabatku rembulan
tapi setiap helai sayap itu kucungkil
dalam diam dan pasti, sayap itu menjadi makin tumbuh dan lebat
kawan, kataku suatu hari
sayap itu adalah bagian dirimu
membuat terbang di ufuk pagi dan menghilang saat senja
bersahabatlah walau tangis itu terus mengucur dalam tubuh fanamu
ingatlah kawan,
kekekalan kan mewujud dalam perjalananmu malam ini, doaku

Kamis, 05 November 2009

Untuk Anak-anakku

sejenak saat kopi sore di sisiku
berteman dengan asa di pelupuk mata
ingin kuceritakan padamu
tentang hidup yang pernah kudaki
atau biduk yang pernah singgah di tiap dermaga
nak, pasti kau akan alami
setiap ceruk-ceruk dan bukit-bukit kehidupan
banyak bunga dan duri yang kan kau temui
saat duri gores kulitmu,
jangan menangis nak, tetaplah tersenyum
duri hanyalah sisa harapan yang kan musnah
atau saat bunga terpetik di hidupmu,
nak, bersyukurlah padaNya
kau diberi percikan surga walau sesaat
ingat nak,
hidup adalah perjalanan
entah dimana kakimu akan singgahi suatu tempat
tetaplah berpegang pada leluhurmu
ehm, enak sekali kopi buatan mamamu
buat pa semakin sayang dan cinta
nak, jika sudah matang berbuah
carilah bibit yang tumbuh di tanah subur
ikatkan kembang pada altarNya
janjikan cinta suci tak berkesudahan
nak, jika daunku mau mulai rontok,
ingin kugendong cucu dari anakmu
kan ku tembangkan lagu pocung
seperti senja saat ini
sini, peluk papa
anak-anakku jadilah terang dan garam
hancurkan ketidakadilan, peganglah kejujuran
kelak pa dan ma kan menunggumu kelak
di dermaga yang namanya pernah ku katakan padamu saat kau tidur

Selasa, 03 November 2009

Usikmu Di Waktu Pagi

saat mentari dengan manja mengajakku menari
anginpun sibuk menghitung hembusan yang keluar dari mulutnya
menerbangkan angan yang kan pupus saat sore nanti
kataku padamu," Adakah musim salju mengusik tidurmu wahai angin?"
jawabmu," Tak ada yang mengusikku walau zaman ini kan tergulung dalam satu musim".
aku pun malu dengan jawabanmu
waktu buatku hanyalah sepenggal roti yang jatuh saat sarapan
atau sejumput teh tang jatuh di tepinya teko
aku coba hadapi
segala keluh kesah akan peradaban yang kian mencabik nurani
tenggelamkan tajamnya penaku
angin, ajak aku menghitung sisa usiaku
dan jika saatnya tiba
aku kan menari bersama sahabatku mentari di esok nanti

Senin, 02 November 2009

Masih Ada Bunga Sisa Hujan Malam Tadi

kenangan makin menganga
saat senja dan daun berguguran di pematang hatiku
Kaukah itu
coba nyalakan api yang telah padam
iringi dengan usiaMu yang mulai memutih
andai musim semi kembali dengan setangkai mawar merah
dan hatiMu seputih anggrek masih terlukis di tubuhMu
mungkin halaman padi yang tersiram hujan malam tadi
kan kuiringi kedatanganMu di sudut hatiku utuh

Rabu, 21 Oktober 2009

Episode 1

mentari seakan enggan menyapaku
walau hidup tetap tergambar di ujung jalan setapak tadi
adakah capingmu coba tutupi
segala masa lalu yang cabik hari ini?
jika kita sampai di ujung jalan ini
dan mentari mau menyapa
buatlah pundi yang tak kan usang dan rusak

Senin, 19 Oktober 2009

Teruskan Langkahmu

kaukah itu?
menabur kembang di gerimisnya pagi
coba tuk hiasi tanah yang memerah
leburkan dosa-dosa yang pernah terjalani
andai bunga itu tumbuh
lalu berbicara tentang sisa hidupmu
entah hitam atau putih
kejujuran pasti terjawab
jangan tangisi masa lalu
masih ada jejak di depan sana
coba tulisi hidup yang baru
gapai segala kesucian dan kebenaran
ya, teruskan berjalan sobat
walau kabut itu makin menebal

Untuk Istriku

sayang, peluk aku
gigil malam ini seakan enggan pergi
cahaya bintang coba terabas jendela
ah, ingin malam ini coba manjakan imaji
cinta seputih kapas terpatri di ujung altar
sayang, eratkan tangan kita
jelang impian yang datang
bersama kereta kencana
berjalan dalam bulan merah yang merekah

( mama sayang )

Peluk Aku Nak

nak, peluk papa
senyum manjamu kikis rinduku
tangan kecilmu coba sibakkan hati yang gersang
basahi debu sisa perjalanan tadi
nak, peluk papa
candamu runtuhkan penatnya ibu kota
guyurkan sisi tangis yang lara
nak, peluk papa
coba daraskan doa tiap malam
agar harapan kan datang
bersama pelangi di teras rumah kita

(untuk Pi kecilku )

Selasa, 13 Oktober 2009

Tak Ada Yang Kekal

tak ada yang kekal
semua bagai fatamorgana di senja hari
menggelinjang dalam hampa
mahirkan kenisbian yang berputar
adakah lesung pipit di pipimu berpendar?
hingga koyakan setia kan pudar?
masih saja burung bertengger di rontoknya daun
coba hitung helai demi helai putih rambutku
duhai Sang Dalang
apakah hidup kan terpinggir dalam batas yang semu
ataukah kekekalan hanyalah cerita fiksi di senja ini
permainan ini belum usai
kadang, aku dan Kau tahu itu
coba artikan gerimis hujan di bulan ini

Minggu, 11 Oktober 2009

Semoga Usai Di Senja Ini

rasakan degup jantungku
saat waktu mengharuskan pergi
entah ke negri dongeng atau khayalan di senja hari
keretamu tlah datang
menjemput jiwa ini terenggut dalam sepi
diam anak istri seakan tangis yang dalam
akankah waktu tergambar dalam sebuah episode yang baru
hentikan reinkarnasi yang usang
atau kainMu tlah tergambar utuh
jawabanMu samar kudengar
iringi nyanyian deru gerbong senja ini

Rabu, 07 Oktober 2009

Kembali ke RumahMu

jika karat mengerat dalam keris
mantra pun menjelma hampa
dan wahyu keprabon silih
rombaklah bejana masa lalu
hingga keping pudar tak bersisa
lalu,
cawan baruku tlah ada
dalam anggur merah pesta
ramuan sisa-sisa pertobatan hidupku
aha,
rumahMu samar kulihat di bukit itu
cahaya lilin kerjabkan cinta tak berpaling
aku bawa anggur ini dalam cawan berukir emas
jika pestaMu mulai
aku bawakan anggur di rumahMu

Baru

kepakan sayap nuri terdengar
di sisi pantai yang menangis
tinggalkan pesan pada anak-anak kehidupan
dunia yang akan kiamat
tanggalkan pakaianmu
lepaskan kebaya yang kau kenakan
biar dinginNya cengkeram manjamu
kepakan itu terdengar lagi
bawa sandang baru
sebuah sayap emas
berukir sebuah nama yang tak asing bagiku

Senin, 05 Oktober 2009

Sampai

sejenak aku sadari
perjalanan hidup kian menipis
dalam guratan tangan atau dalam bekunya pagi
ingin, kidung yang sumbang kian kikis
segala gundah gulana terkikis
di sepinya pagi ini
bayu pun enggan menitis
dalam bongkahan batu berbaris
jari yang tengadahi gerimis
kucoba dalam titisan pagi

Rabu, 30 September 2009

Tak Ada Beda

jawaban tidak diperlukan saat kebenaran ada
pertanyaan seakan sirna saat Kau datang
buratkan mimpi yang ditelan embun
mantrakan doa dari hati yang terdalam
akankah hidup dan mati beriringan?
maknai isak tangis dan tawa
tapi semua bagai tak ada artinya
buat badranaya, semua sama dan tak ada bedanya
kadang angin yang telah pergi
hanya sisakan suara saja
berlari di setiap akhir nafas
kalau besok dan hari ini sama saja
senyumMu sama dengan tangisMU
Ah, Kau sedang tersenyum saat kubaca sajak ini

Minggu, 13 September 2009

Percakapan Pagi Ini

belum ada akhir
waktu seakan ingin kusudahi
coba tengadahkan harapan yang lebih baik

mengapa kau menangis anakku?
bukankah jalan ini yang kau pilih
taburan onak dan duri tertabur di penghujung pagi?

bangkitlah anakku!
hidup bukanlah kematian harapan
selalu coba melangkah walau perih dan sesak di dada

Tuhan, sangat ruwet fananya hidup ini
Kau selalu nyatakan hingga aku terkapar dalam sepi
merangkak dalam lumpur dan kerasnya karang

Ah, mana kesetianmu?
bukankah salib ini harus kaupanggul
ayo, Aku sudah menunggumu di sini

Tuhan, adakah malaikatMu bopong aku?
koyakkan ikatan sedih dan pilu?
longgarkan kaki ini agar tetap terus bertahan

anakKu, bukankah engkau selalu Kugendong?
lewati pagi dan malam abad ini?
celupkan RohKu dalam tenggorokanmu ?

air mata ini terkuras bagai sungai Gangga
menetes dan bercampur dengan darah di cawanMu
kucoba melangkah bersamaMu dengan salibKu yang tak ada artinya dibanding denganMu.

Selasa, 01 September 2009

Awal

fitrahmu tergambar di setiap lekukan nafas
membahana dalam diam
mereguk setiap tetes embun yang jatuh di dedaunan
alangkah tegar hatimu
bagai butir air yang terjun di atas karang
kikis segala kesombongan dan kekanakan
terimalah air sewindu yang kusimpan dalam bejana ini
legakan segala hasrat dan sayang
tuk titi hidup yang tak bertepi

Kamis, 27 Agustus 2009

Selalu Ada

duri yang tindas dagingmu akan ku cuil
hingga kau bebas tak terikat
sayang, bukankah fatamorgana hanyalah kesirnaan harapan?
bukankah bayu yang lembut selalu menjelma di sudut hatimu
jika esok dan hari ini sama saja
kuingin temani dirimu utuh
bercerita dan bernyanyi tembang kehidupan
mengenang hujan di dinginnya kalbu

Selasa, 25 Agustus 2009

Prajuritku

sekilas tampak matamu bagai pedang
menyerang penjajah dari bumi tercinta ini
garis kerutan wajahmu sebagai saksi
betapa hidup perlu diperjuangkan
katamu," betapa penjajah adalah benalu
mengikis dan menerkam tubuh dan roh kita."
aku pun diam, karena cerita tak kan usai sebelum fajar menyingsing di selimutmu
kulihat kau saat tidur
kadang igauan dan terikan MERDEKA lantang kau ucapkan
hymne lagu perjuangan bagai semangat mudamu yang takkan pupus
sekarang,
kau tertidur dalam kabut dingin di pusaramu
terlihat tongkat bambu runcing dengan sang saka
lirih aku berkata
"Selamat jalan Kek, semoga biji yang kautanam kan mekar saat senja nanti".

Kamis, 20 Agustus 2009

Karena Angin

angin nakal singkap kebayaMu
misteri itu pun samar kulihat
walau remang cuaca
mampu tuk kerjabkan mata hati
ah, Kau tersenyum bagai gadis kecil
menari dan meloncat bagai menjangan
ajari aku tarianMu
ajari aku nyanyianMu
ajari aku semuanya
diam-diam, angin nakal kembali singkap kebayaMu lagi
tapi dengan tenang Kau pergi di ujung fajar pagi ini

Rabu, 19 Agustus 2009

Mantra Pengemis

komat-kamit seakan keluarkan keluh di dada
bagai air bah yang ingin membuncah keluar
suara tangis yang tak terdengar
suara gundah yang terekam dalam mantra
oh, hidup
kenapa buat robekan masa depan
tercecer di setiap imaji mimpi
oh, hidup
bagai belantara yang terberangus
terbakar dalam nestapa
oh, hidup
ingin selesaikan satu detik lagi
agar saat reinkarnasi nanti
menjadi raja di lain dunia

Selasa, 18 Agustus 2009

Sisakan

sisakan embun di tanganku ini
kan kubuat sebuah danau yang penuh kasmaran
sisakan tetes air matamu
kan kubuat sebuah samudera pengampunan ilahi
sisakan semua sobat
memberi adalah kekayaan hati
mengikat perjanjian kekal
dalam setiap batas cakrawala

Penantian

getas dan kaku
diam di dinginnya batu
merajam kekilafan masa lalu
garami biar mati kaku

sesal tak terperi
menyobek catatan harian
bakar hingga telanjang
sebar dalam tenangnya laut

jika waktu telah usai
batas nyata dan ilusi makin menipis
ku mau Kau di sini
temani rohku kembali padaMu

Rinduku

gigil malam tadi
semburatkan imaji
kekalkan janji di ujung altarMu
kasih, rindu yang tak terucap
bekukan rasa hingga membekas dalam nafas
menari dalam dekapan tubuhmu
gelorakan kasih yang tak terucap
kasih,
di dermaga ini
biduk t'lah siap arungi
kepastian dalam harapan

( untuk Cantikku )

Senin, 17 Agustus 2009

Renungan Sang Waktu

Matahari bertanya pada sang pagi,” Apakah yang akan kau lakukan wahai Pagi?”
Sang pagi menjawab dengan santun diiringi suara kecapi pagi
,”Wahai matahari, akan kusapa daun-daun dan tetesan embun mahkotanya. Akan kuberikan segala waktuku untuk memberi alam ini agar tersenyum dan mengidungkan nyanyian kehidupan.
Kan kuberikan juga cahaya semangat pada kehidupan agar semakin mengartikan begitu indah waktu dan kesempatan tuk hidup ini.”
Matahari tersenyum atas jawaban Sang Pagi.
Dan lihatlah!
Alam kehidupan selalu menyambut pagi dan selalu mengucap syukur pada Sang Khalik bahwa hidup ini tak sia-sia untuk diberi arti dan makna.
Sang Waktupun memanggil matahari yang berubah menjadi Sang Bulan.
Sang Pagipun berubah menjadi Sang Malam.
Lalu kata Bulan pada Sang Malam
,” Wahai sahabatku, apakah yang kaupetik dari semua ini?”
Sang Malampun menjawab dengan santun diiringi suara kecapi malam
,”Wahai Sahabatku Bulan, aku semakin mengerti bahwa hidup adalah pengembaraan yang diiringi karya dan tugas. Jadi tugas dan karya adalah sebuah pengabdian yang mengakar dan menjiwai hidup ini. Bahwa segalanya akan berbuah dan buah itu harus berguna bagi sesama dan kehidupan.”
Sang Bulan yang bijakpun kembali tersenyum sama indah dengan senyum saat menjadi Matahari.
Ternyata bahwa hidup harus diisi dengan karya dan pengabdian yang tulus bagi sesama dan kebesaran Sang Pencipta.

Pengamen Tua

lagumu terdengar serak
seperti serpihan masa lalu yang telah berkarat
bercerita tentang harapan yang sirna
mencoba tengadahkan tetes air mata

kau bernyanyi lagi
berlari dan mengejar bus yang sekarat
lagumu adalah lagu sumbang
dingin seperti stalagtit yang menggantung di ujung gua

di bus yang biasa kau sambangi
sekarang tak terdengar lagi
lagu sumbang sudah terkubur
didekap dan dilebur dalam diam dan sepi

Kamis, 13 Agustus 2009

Nanti

tak selamanya gugur daun dalam satu musim
buat belalang berhenti memakan daunnya
ibarat hitung tetes embun yang pecahkan pasir
hati kian merintih saat mentari seakan enggan menyapa
hadirmu bukanlah sebuah kuncup yang mekar
hadirmu adalah bau tanah saat pagi
merembes dan hilang di senja sore
mari, kita buat pondok
yang tak hancur oleh rayap
tuk bubuhkan sukma yang tersenyum
menorehkan tanda agungMu

UntukMu

kabut pagi gigilkan hati
bersujud dalam diam
sebeku batu di pegunungan itu

pengembaraan ini ternyata tidak sia-sia
genggamkan kembang putih
bawa cerita yang ikrarkan perjuangan

kucoba kidungkan tembang ke surgaMu
walau nada nyaris tak berirama
tapi kulihat, Kau tersenyum di ujung cakrawala itu

EPISODE WAKTU

Saat bulan ranum di tepian malam

Dan angin yang sentuh makna hidup

Atau saat daun yang jatuh meranggas dari tubuhnya

Dan desah air mengalir di pematang hati

Ingin kutorehkan syair untukmu di keheningan

Bersama embusan Bayu yang gigilkan suara hati

Bersama deburan ombak yang gelorakan semangat dan kejujuran

Bersama kepakan sayap burung yang pulang ke sarang

Dan bersama fajar yang tersenyum di bukit itu

Bayu, ombak, burung, dan fajar

Suatu roda yang menggelinding dalam ketidakpastian

Mencoba merenda segala yang fana

Membungkus dalam hening dan ikat makna dalam karang

Sobat, tahukah kau?

Saat ibu kehidupan mengandung

Saat langit merah terkuak

Saat semesta menyambut kehidupan

Saat titik hidup dan mati tak ada batasnya,

Kaulah Bayu yang dengarkan tembang cinta

Kaulah Bayu yang bersemayam di palung kehidupan

Kaulah Bayu yang keluarkan tangis di fananya dunia.

Waktupun bergulir perlahan nan pasti

Saat hidup kau cecap

Saat kau injakkan bersahabat dengan kenyataan

Saat kau rasakan dinginnya nurani

Kaulah Ombak dengan semangat mudamu

Kaulah Ombak tuk gulung segala kepahitan hidup

Kaulah Ombak tenggelamkan garam kehidupan

Ada waktu di mana sauh harus kau tambatkan

Ada waktu di mana layar harus kau gulung

Dan ada waktu kau ceritakan tanah asing yang kau labuhi

Kaulah Burung yang setia tuk pulang

Kaulah Burung yang ceritakan dongeng pada kami

Kaulah Burung yang terpekur di heningnya malam

Saat kau terbangun di pagi hari

Saat bagaskara dengan malunya menyembul di bukit itu

Saat kicauan burung buyarkan malam tadi

Saat Sang Khalik menyambut segala doa dan persembahan

Kaulah Fajar yang gemakan hidup baru

Kaulah Fajar yang lengkapi hidup dengan segala karya dan tugas

Kaulah Fajar yang mengidungkan tembang kehidupan

Sobat, jika kidung itu telah selesai kau nyanyikan

Bersama cahaya kunang-kunang yang menari dengan peri kecil

Dan saat alunan musik kehidupan telah mengalir dalam hening dan diam

Segala doa selalu terucap dalam hati kami

Debu Gerbong Kereta Api

antara Jakarta dan Jogja
tersimpan perjalanan yang menyisakan kenangan
berdansa dan tertidur di negeri impian
menderit di ujung rel, terjal

kami adalah debu-debu gerbong ini
mencoba mengurai benang kusut ekonomi
berteman dengan serdadu mati
menari dengan tatapan yang kosong

ah, berjuta-juta tubuh terbujur dan meringkuk kaku
mencoba tidurkan kepenatan
merenda mimpi di sebuah kota impian
coba prasastikan hidup yang lebih baik ?