saat mentari dengan manja mengajakku menari
anginpun sibuk menghitung hembusan yang keluar dari mulutnya
menerbangkan angan yang kan pupus saat sore nanti
kataku padamu," Adakah musim salju mengusik tidurmu wahai angin?"
jawabmu," Tak ada yang mengusikku walau zaman ini kan tergulung dalam satu musim".
aku pun malu dengan jawabanmu
waktu buatku hanyalah sepenggal roti yang jatuh saat sarapan
atau sejumput teh tang jatuh di tepinya teko
aku coba hadapi
segala keluh kesah akan peradaban yang kian mencabik nurani
tenggelamkan tajamnya penaku
angin, ajak aku menghitung sisa usiaku
dan jika saatnya tiba
aku kan menari bersama sahabatku mentari di esok nanti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar