sekilas tampak matamu bagai pedang
menyerang penjajah dari bumi tercinta ini
garis kerutan wajahmu sebagai saksi
betapa hidup perlu diperjuangkan
katamu," betapa penjajah adalah benalu
mengikis dan menerkam tubuh dan roh kita."
aku pun diam, karena cerita tak kan usai sebelum fajar menyingsing di selimutmu
kulihat kau saat tidur
kadang igauan dan terikan MERDEKA lantang kau ucapkan
hymne lagu perjuangan bagai semangat mudamu yang takkan pupus
sekarang,
kau tertidur dalam kabut dingin di pusaramu
terlihat tongkat bambu runcing dengan sang saka
lirih aku berkata
"Selamat jalan Kek, semoga biji yang kautanam kan mekar saat senja nanti".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar