Kamis, 18 November 2010

Galau

waktu seperti terseret gerobak kerbau
kadang tersendal hingga bibir bisu
mencari sisa detik di bawah selimutMu
saat gerimis senja di dekat api tungkuMu
ku baca guratan waktu
jadikan prasasti antara seribu dalam satu
itukah biru laut yang selalu jadikan peraduanMu
aku tahu dalam pasti ada biru dalam haru

Rabu, 27 Oktober 2010

Di RumahMu

duka tawa biasa kusambangi
balutkan sesal harap di ujung kainMu
merangkul sinar cintaMu di setiap tasbih
hingga mimpi tiba2 di depan pintuMu
tak ada kata nan diam
mencoba bicara
tapi bahasa yang kuucapkan tak kumengerti
tapi Engkau tersenyum dan mengajakku tersenyum
di ujung temaram malam
bersama merenungi jejak yang pernah kulangkahkan
ada noktah, tapi semua tak berarti bagiMu

Kamis, 21 Oktober 2010

Sendiri

andai Kau tahu
rasa perih karena rindu sungguh sesakkan
sakit, serasa terbuang dalam rahimNya
sepi, sendiri, gelisah
matikan hasrat semesta
coba berjalan dalam kesunyian

Syairku

kutitipkan syair ini
pada jiwa yang menangis
akan rajamnya rindu
tilik dalam heningnya doa

kutitipkan syair ini
pada ilalang yang merindu
getarkan rasa
reguk rindu dalam bejanaNya

syairku adalah syair ilalang
sendiri di sahara maha luas
renungkan kesendirian
renungkan kehampaan

Rabu, 20 Oktober 2010

Suatu Senja

di senja hari
kutemukan kepingan hati yang sakit
sejenak kubaca dalam gerimis
untaian kisah yang terpatri
dalam bekunya hati

aku dengar sebuah kisah
sebuah perjalanan yang panjang
pengembaraan dengan kaki yang redam
berusaha gapai asa di bintang

kucoba mengajakmu tersenyum
dalam hati dalam galau
katamu suatu waktu
'bukankah lima hari lebih hangat dari satu hari?'
akupun mengangguk dan serahkan kepingan hati ini

Rabu, 29 September 2010

Ternyata

ternyata aku bukan siapa-siapa
bagai setitik pasir di hamparan pantaiMu
tergantung akan angin yang Kau tiupkan
berbaur dalam gejolak hidup tak bertepi
buat apa semuanya
mencari sebuah kehampaan
berlomba menangi setiap pertandingan
jika semuanya adalah sis-sia belaka
sekali lagi,
ternyata aku bukan siapa-siapa
buat apa titikkan air mata
jika nyanyian itu selalu sumbang kudendangkan

Selasa, 14 September 2010

Di SemestaMu

kosong nan diam
melayang di lautan sepi
tenggelam dan coba melayang
pada diri yang telanjang
itukah Kau?
bawa seteguk air sewindu dalam tanganMu
senyapkan semesta, kekal dalam bisu
buatlah tubuhku ini
sesuai bentuk imajiMu
pasrah, walau gejolak kadang menikamku

Selasa, 31 Agustus 2010

Satu

rasa terkekalkan
buih ombak pada lautan
bara dalam api
bergeming dalam sunyi
seperti labirin
jauh di dasar jiwa
mengenang rasa yang biru
bagai bima pada ruci

Selasa, 27 Juli 2010

Kembali

doamu menggema di dasar hatiku
usir kelam dalam pijar cahaya
mengikis dalam temaramnya senja
usaikah zikir tuk gogrokkan hitam?
semua tertiup angin surga
kembali menjadi bayi lagi

Selasa, 06 Juli 2010

Episode Waktu

Saat bulan ranum di tepian malam
Dan angin yang sentuh makna hidup
Atau saat daun yang jatuh meranggas dari tubuhnya
Dan desah air mengalir di pematang hati

Ingin kutorehkan syair untukmu di keheningan
Bersama embusan Bayu yang gigilkan suara hati
Bersama deburan ombak yang gelorakan semangat dan kejujuran
Bersama kepakan sayap burung yang pulang ke sarang
Dan bersama fajar yang tersenyum di bukit itu

Bayu, ombak, burung, dan fajar
Suatu roda yang menggelinding dalam ketidakpastian
Mencoba merenda segala yang fana
Membungkus dalam hening dan ikat makna dalam karang

Sobat, tahukah kau?

Saat ibu kehidupan mengandung
Saat langit merah terkuak
Saat semesta menyambut kehidupan
Saat titik hidup dan mati tak ada batasnya,

Kaulah Bayu yang dengarkan tembang cinta
Kaulah Bayu yang bersemayam di palung kehidupan
Kaulah Bayu yang keluarkan tangis di fananya dunia.

Waktupun bergulir perlahan nan pasti

Saat hidup kau cecap
Saat kau injakkan bersahabat dengan kenyataan
Saat kau rasakan dinginnya nurani

Kaulah Ombak dengan semangat mudamu
Kaulah Ombak tuk gulung segala kepahitan hidup
Kaulah Ombak tenggelamkan garam kehidupan

Ada waktu di mana sauh harus kau tambatkan
Ada waktu di mana layar harus kau gulung
Dan ada waktu kau ceritakan tanah asing yang kau labuhi


Kaulah Burung yang setia tuk pulang
Kaulah Burung yang ceritakan dongeng pada kami
Kaulah Burung yang terpekur di heningnya malam

Saat kau terbangun di pagi hari
Saat bagaskara dengan malunya menyembul di bukit itu
Saat kicauan burung buyarkan malam tadi
Saat Sang Khalik menyambut segala doa dan persembahan

Kaulah Fajar yang gemakan hidup baru
Kaulah Fajar yang lengkapi hidup dengan segala karya dan tugas
Kaulah Fajar yang mengidungkan tembang kehidupan

Sobat, jika kidung itu telah selesai kau nyanyikan
Bersama cahaya kunang-kunang yang menari dengan peri kecil
Dan saat alunan musik kehidupan telah mengalir dalam hening dan diam
Segala doa selalu terucap dalam hati kami

Inginku

Ingin kukenang hidup ini dengan ranggasnya daun-daun di musim kemarau
Atau torehan tinta pada daun yang tak kering
Adakah sang waktu bersahabat pada untaian nafas?
Atau terus berseteru pada badan yang kan sirna?

Ingin kukenang hidup
Dengan pengembaraan yang tak kan usai di ujung cakrawala.

Tarian Angin

Angin yang lewat di lubang jendela mengajakku menari
Katanya :“Tangismu, adalah gerakan sayap-sayapku
Terbang di setiap relung hatimu
Menaburkan sisa tangis kemarin agar hilang
hingga tak ada tangismu yang lara”
Aku tersenyum dengan segala gundah hati yang tak terucap
Tapi kuingin menari bersama angin itu

Rindu Ibu

Kuingin memeluk ibu
Menyandarkan segala letih sisa perjalanan ini
Bercerita tentang alam di luar rahimnya
Buat pelangi di setiap desah nafas

Oh ibu, aku ingin pulang
Ceritakan letihnya salib ini
Agar kuat tuk bangkit saat cium tanah gersang
Agar semua baik-baik saja

Ibu, tahukah engkau
Anakmu hidup di warna hidup yang tak pasti
Berkelana sangat jauh
Tinggalkan rahim yang pernah buatku tidur lelap

Senin, 05 Juli 2010

Untuk Ndhukku

ndhuk, papa kan pulang
memelukmu dan menggendongmu
coba bercerita pada penatnya ibu kota
atau penggalan hidup yang selalu kubawa
ndhuk, papa bawa buku gambar
kadang diam2 papa selalu lihat engkau
menggambar kereta dan seorang lelaki di dekatnya
papa tahu, ternyata engkau menggambar papa
kadang papa ingin menitikkan air mata
tapi papa malu padamu
katamu suatu hari,"Papaku adalah seorang yang tegar"
itulah mengapa aku kelihatan dingin karena tersimpan luka yang kadang menganga
ndhuk, papa kan pulang
suatu saat nanti
papa kan ceritakan tentang cinta sejati, cinta yang abadi
sebuah perjuangan yang membutuhkan kebesaran jiwa
ndhuk, papa kan pulang

Lihat Diri

sisakan air mata
dalam heningnya cinta suci
rasakan peluh di pipi
tenggelamkan harapan di hati
dulu, sekarang, besok
hanya Engkau yang mengertiku

Perjalanan

jika bulan terenda di atas bantal
sungginganMu selalu terpatri di alam mimpiku
coba menari dengan sukma
kekalkan perjanjian yang tertulis
warna bagai lekuk-lekuk indah tubuhMu
baca kitab bagai baca syair
lagukan tembang pangkur di pelataran kakekku
ya, kristal warnamu t'lah berpendar
naungi langkah yang ku jelang saat gerimis mulai reda

Jumat, 02 Juli 2010

Diam 1

sudah kutahu, bahwa laut menyimpan misteri
ombaknya yang bergelora seakan tunjukkan siapa dirinya
dan yang kutahu saat ini
setiap pagi bahkan malam, mentari kan setia menunggu
rindu pada indahnya pelangi
rindu akan pekatnya siluet malam
di batu ini,
kugambar laut tuk ungkapkan hatiku
pada birunya luka
coba goreskan keniscayaan
prasastikan setiap nyanyian prenjak di sore hari

Selasa, 29 Juni 2010

Aku 1

akulah ilalang
coba bersyair di padang kehidupan
walau suara kadang kalah dengan hembusan angin
namun tubuhku tetap tegak berdiri bersuara lantang
memang aku hidup seperti tidak kau kehendaki
tumbuh di antara linearitas
terjepit dalam tatanan palsu
ya, akulah ilalang
selalu suarakan kejujuran dan kebenaran
hingga ujungku robek kemunafikan

Mencoba

mendulang tasbih di tetesan embun
mengukir dalam untaian doa
selalu tengadah di haribaanMu
oh, Sang Khalik
butir-butir pasir coba tenggelamkan nurani
terbuai fatamorgana yang berhasrat dalam dinginnya sahara kehidupan
melangkah dalam kepastian di ketidakpastian

Rabu, 23 Juni 2010

Bidadari-Bidadariku

bidadari-bidadariku
doa semesta terjawab sudah
kekalkan prasasti dalam mantera Sang Widi
lahirkan kehidupan baru
iringi wejangan leluhur akan kebaikan dan kebenaran

bidadari-bidadariku
getarkan kejamnya dunia dengan kasihmu
lumatkan bara kekejaman dengan senyummu
niscaya jagad kan menerimamu sebagai Ratu

bidadari-bidadariku
terbanglah ke dunia bertatahkan pelangi
pimpinlah selaksa pasukanmu
doa bapa biyung selalu kuatkan sayapmu

Senin, 10 Mei 2010

Doanya

rinai surya tersenyum manja
mandikan warna keemasan dalam hening pagi
senyummu mengembang usik gelisah
senandungkan kata rindu hangat
kasih, bibirmu coba sibakkan sudut hatiku
beku mencair dalam cinta
ah, bunga - bunga bermekaran
coba doakan biduk yang kan jelang di negeri impian

Selasa, 20 April 2010

Malam Ini

malam ini
kuingin mencari kembaramu
bersama angin malam
mungkin juga sisa hujan tadi pagi
malam ini
kuingin merenung dalam galaunya hati
tentang perjumpaan
antara dua hati yang makin menyatu
malam ini
kuingin mencumbu bayangmu
hingga mimpi tak bersisa
dalam akhir ruang waktu
malam ini
kuingin aku tahu
suka adalah kosong
duka adalah kosong
hingga tak terkuras air mata kehidupan

Kamis, 15 April 2010

Pulang

Aku lelah
masih jauh sahara ini
dalam doa dan harap
coba tenggelamkan kepenatan
layu
lumpuh

Aku bangkit
walau aku Kau tinggalkan
coba baca gejala
di dinginnya batu

Kamis, 08 April 2010

Jika

Jika bunga mawar yang ranum di pagi hari tertinggal hanya kelopak dan duri yang tajam, apakah Engkau akan bukakan pintu vas di meja pagiMu? Bukan maksudku untuk berikan seperti ini. Ku berusaha untuk halau angin nakal yang selalu ingin mencumbu mawar ini, atau sekelompok serigala yang lapar akan kasih sayang. Tadi pagi memang aku sempat jatuh tergelincir, terjatuh di atas tanah berlumpur. Dan saat kubasuh mawar ini ternyata justru buat patah mahkotanya. Kucoba minta perekat kehidupan di jalan yang kusinggahi tetapi mereka tidak mau memberikan, katanya," Kami hanya punya sedikit sobat, dan ini hanya cukup buat aku dan keluargaku."
Jadi Tuhan, jika mawar yang seharusnya ranum, ya sebenarnya ranum tetapi sekarang tinggal kelopak dan durinya masih ada di genggamanku, kumohon jadikan satu dalam vas bungaMu di pojok meja makanMu.
Tuhan, aku masih menungguMu di depan pintuMu. Semoga kau bukakan pintu yang dulu pernah Aku lewati bersamaMu.

Selasa, 30 Maret 2010

Diam

aku diam
tak bisa berkata-kata
aku gelisah
telisik hati yang rapuh
aku menangis
cucurkan tangis yang menangis
aku tertidur
terbuai doa pengiringku

Minggu, 28 Maret 2010

Selalu

Selalu ku di sini
pandangi wajahMu nan ayu
bagai pualam murni bermandi cahaya bulan

Selalu ku sini
mendamba kehadiranMu
bagai daun yang menunggu datangnya embun di waktu pagi

Selalu ku di sini
merindukan diriMu utuh
bagai pesona yang tak lekang oleng waktu

Selalu ya selalu
padaMu ada diriku, padaku ada dirimu
satu dalam cinta murni

Minggu, 21 Maret 2010

Kumau Engkau Tuhan

waktu pagi diiringi kicauan burung nuri genggam impian tadi malam
berdoa dalam sunyi dengan tasbih rekahkan harapan yang kita jelang
bersamaMu dalam seharian, membuat hidup menjadi penuh arti dan makna
dalam bekunya dosa dan sesal, kuharap Engkau hancurkan kepenatan ini
menjadi suluh dalam labirin kehidupan

Kamis, 11 Maret 2010

Kosong

berputar dalam lingkaran
kelilingi poros hidup
akan sebuah perjalanan
kembalilah
dalam hati yang terdalam di lubukmu
kan kita temui
kekosongan yang terjelma
di setiap hembusan nafas

Senin, 08 Maret 2010

Sekali Lagi

ingin sekali lagi kuucapkan
sebuah kata cinta dan rindu pada putih salju hatimu
jauh terenda dalam relung hati
ingin sekali lagi kubisikkan
sebuah kata sayang dan kangen pada pelangi jiwamu
terpatri dalam empat musim cinta ini
ingin sekali lagi kupersembahkan
sebuah rasa yang terkekalkan dalam tetesan syair
terlukis di setiap hati yang mencinta

Kamis, 04 Maret 2010

Dua Sisi

luruh dalam gelap pernah kurasa
bagai kehilangan mata angin
jatuh, bangun, meraba sendiri
suara bagai gaung yang asing kudengar
tak ada cahaya
berputar dalam kepekatan nisbi

bermandi siluet cahaya keemasan pernah kurasa
bagai penampakan surga
terbang, menari, bernyanyi
suara bagai paduan serafim
lagukan melodi surgawi
berputar dalam kesejatian surgawi

semuanya bagai ranting pohon yang kan patah
jatuh ke tanah, terkubur dalam semesta

Rabu, 03 Maret 2010

Rinduku

dekap tubuhku dalam keremajaanMu
melalang dalam mimpi dan tergugah dalam suara pagi
andai bulan muncul di senja perbukitan itu
ku mau bersihkan jubahku dengan air mataMu
hingga gigil di gurun ini
terusir senyumMu, melebur dalam putihnya pasir

Rabu, 24 Februari 2010

Di Ujung Waktu

ujung bukan berarti batas
titik itu sebagai arah pijak kemana kita kan pergi
tak ada yang pungkiri
titik itu bagai oase
hasil tabungan peluh keringat dan air mata
kita memang bukan pendoa
tapi kalung rosari ini selalu terlingkar di leher kita
ajak agar selalu berharap
agar ujung itu menjadi harapan
sebuah cinta yang ikhlas tanpa pamrih
sebuah kasih yang sejati
sebuah rumah idaman dengan taman yang penuh bunga

Andai

siluet itu menyergapku dalam dingin
coba sibak segala rasa terpendam
berputar dalam bekunya batu pualam
benarkah suatu yang melebur dalam jiwa adalah syair terindah?
bukankah itu adalah kekosongan yang hakiki?
ah, desahku pada hujan musim ini
ternyata mereka adalah pengembara yang tersesat dalam egonya
biarkan saja
mentari kan bawa penemuan jati dirinya nanti

Selasa, 23 Februari 2010

Foto Kita Ndhuk

ndhuk, papa kan pulang
dengan permen coklat kesukaanmu
atau buku gambar yang selalu engkau lukis
sebuah kereta api yang berjalan di ujung senja
katamu suatu saat," Papa naik kereta ini ke negeri yang janjikan masa depanku."
ndhuk, papa kan cepat pulang
dengan buku-buku mewarnai
dan kau selalu warnai dalam keceriaan manjamu
katamu suatu saat," Pa, Ada nggak gambar seorang anak kecil perempuan dan papanya? Agar Pi dapat mewarnainya. Pi sangat senang gambar itu Pa."
aku pun cari selalu buku gambar itu
bahkan dari tiap stasiun yang kusinggahi
atau setiap rel kereta yang selalu menemaniku, tidak ada
ndhuk, papa telah pulang
dan papa tlah bawa gambar itu
ya, ternyata gambar itu adalah fotoku bersamammu

Dekap Sepi

bergelayut
memeluk
berpendar dalam desah
warnai bayangan sejati
rekahkan merah bibirmu
sepi
kosong
dalam diam ada bayangan
dan ternyata
bayangan itu adalah bayanganku sendiri
mencoba merengkuh
berlari
jatuh
bangkit lagi dengan sinar temaram di ujung senja
diterangi lampu teplok
membaca guratan nasib
memanterai
memeluk rosari mawar merah
diam
sendiri
tiba-tiba
Engkau datang
bawakan salibku di golgotaMu

Minggu, 14 Februari 2010

Di Suatu Pagi

kita susuri jalan ini
pohon, bunga, rumput, dan gemericik air sungai mengerlingkan matanya
saat kucium bibirMu
ada siluet mentari terangi wajahMu yang ayu
pagi yang indah
tebarkan jiwa yang mencinta

Minggu, 31 Januari 2010

Temani Aku

Bicaralah sayang lewat deru gerbong ini
Temani jiwaku yang merindu hangat pelukmu
Tersenyumlah sayang dalam keremangan senja ini
Temani jiwa yang memutih akan hadirmu
Peluklah nuraniku ini
Sisipkan bisikan mesra akan datangnya embun pagi
Ciumlah bibir ini
Larutkan segala gundah setiap mimpi malam

Senin, 04 Januari 2010

Sampai 2

desir angin pagi sapa rohku
terbang di antara jiwa yang kidungkan indahnya pagi
berkelana dalam senyum yang indah
memetik setiap asa yang singgah
burung pun enggan terbang
mencoba bermeditasi dalam kicauannya
kuaskan dalam lembaran nurani
jiwaku kembali takjub
ternyata aku tlah sampai di rumah dewa ruciku