s
e
p
e
r
t
i
udara isi relung hatiku
k
a
n
g
e
n
kian sebarkan gundah di setiap nafas
k
e
k
a
s
i
h
peluk aku dalam dekapan cinta sucimu.
Sajak - sajak kehidupan yang ditulis oleh seorang manusia yang belajar untuk memaknai dalam kesederhanaan kata. Mencoba mengajak untuk merenung dan memaknai hidup. Dan semuanya hanyalah kedangkalan sikap dan kata jika hidup dipandang sebagai hidup itu sendiri.
Minggu, 29 November 2009
Dekaplah Aku Wahai Pagi
dekaplah aku wahai pagi
sirami dengan kidung yang pernah kita nyanyikan waktu gerimis musim hujan
bibirmu coba sapu kangenku
dekaplah aku wahai pagi
jangan cepat beranjak walau mentari terlukis di awan putih
pelukmu bagai pelukan bayi terhadap ibunya enggan terpisah walau sesaat
dekaplah aku wahai pagi
leburkan sukma dan kasih
hingga cinta terpatri dalam episodeNya
sirami dengan kidung yang pernah kita nyanyikan waktu gerimis musim hujan
bibirmu coba sapu kangenku
dekaplah aku wahai pagi
jangan cepat beranjak walau mentari terlukis di awan putih
pelukmu bagai pelukan bayi terhadap ibunya enggan terpisah walau sesaat
dekaplah aku wahai pagi
leburkan sukma dan kasih
hingga cinta terpatri dalam episodeNya
Selasa, 24 November 2009
Pagi 1
kepada pagi ,
kupersembahkan hati yang telah utuh lagi
kudaraskan setiap doa dalam lekukan nafas
heningkan dan endapkan dalam secangkir kopi ini
siluet pelangi tergambar dalam tetesan embun
pancarkan hati yang kasmaran padamu
kepada pagi,
kutitipkan sayap tuk kekasihku
jika nanti mentari tersenyum
ingin dia disisiku lagi
bercerita tentang cinta sejati ini.
kupersembahkan hati yang telah utuh lagi
kudaraskan setiap doa dalam lekukan nafas
heningkan dan endapkan dalam secangkir kopi ini
siluet pelangi tergambar dalam tetesan embun
pancarkan hati yang kasmaran padamu
kepada pagi,
kutitipkan sayap tuk kekasihku
jika nanti mentari tersenyum
ingin dia disisiku lagi
bercerita tentang cinta sejati ini.
Ku Coba
ah, Kau menggodaku lagi
dengan mataMu yang selalu mengerjab
dengan tarian tubuhMu yang goyang imajiku
dengan senyum yang sungging di mulutMu
ah, sayang
aku pun tak kuasa
saat Kau mengajakku nikmati
reguk segala tawa dan ria
dalam meditasiku,
aku coba bertasbih dalam sepi
mengidungkan bersama bala surgawiMU
dan mengartikan jalan hidup yang tak bertepi.
dengan mataMu yang selalu mengerjab
dengan tarian tubuhMu yang goyang imajiku
dengan senyum yang sungging di mulutMu
ah, sayang
aku pun tak kuasa
saat Kau mengajakku nikmati
reguk segala tawa dan ria
dalam meditasiku,
aku coba bertasbih dalam sepi
mengidungkan bersama bala surgawiMU
dan mengartikan jalan hidup yang tak bertepi.
Selasa, 17 November 2009
Malam
malam, aku lapar pada bayangmu
gapai setiap rintik hujan musim ini
tuk renda kenisbian yang kekal
masihkah daun yang kering itu terbang tertiup angin
ataukah tetap berpegang pada dahan yang tua
malam janganlah pergi
walau pagi akan menyapa
kikis bayangmu yang kuinginkan
gapai setiap rintik hujan musim ini
tuk renda kenisbian yang kekal
masihkah daun yang kering itu terbang tertiup angin
ataukah tetap berpegang pada dahan yang tua
malam janganlah pergi
walau pagi akan menyapa
kikis bayangmu yang kuinginkan
Senin, 16 November 2009
Kangen
sungguh aku tersiksa
rindu yang terpatri dalam sayang
menggelora bergulung dalam hasrat
andai oase itu nyata
kugapai dirimu tak kulepas lagi
rindu yang terpatri dalam sayang
menggelora bergulung dalam hasrat
andai oase itu nyata
kugapai dirimu tak kulepas lagi
Rabu, 11 November 2009
Hidup
lahir, mencium sumber air kehidupan
jatuh, mencium ibu pertiwi
bangun, mencium udara pagi
berjalan, mencium hangatnya mentari
sakit, mencium putihnya harapan
mati, mencium tanganMu
jatuh, mencium ibu pertiwi
bangun, mencium udara pagi
berjalan, mencium hangatnya mentari
sakit, mencium putihnya harapan
mati, mencium tanganMu
Kabut Itu Memang Mengganggu
kau pun tumpahkan tangis saat gerimis pagi ini
penyesalan bagai pisau karat yang tancap jantungmu
coba jahit robekan sisa-sisa jejak yang tertinggal di hutan pinus
saat kulihat matamu,
seakan kabut kian menebal
gerogoti jiwa beku yang tidur di tubuhmu
sobat,
andai kesetiaan diganti dengan hamburnya fatamorgana
masihkah penantian masih setia di terasmu ?
coba gapai mimpi di bekunya senja yang memutih?
sudahlah sobat,
tubuhmu sempoyongan karena kebanyakan bir yang racuni jiwamu
tidak mungkin gagak diganti nuri impianmu
sudahlah,
kabut itu memang ganggu hidupmu
cobalah berguru pada sepi kesunyian di senja nanti
percayalah, pasti ada jalan setapak yang tuntun hidupmu lagi. semoga
penyesalan bagai pisau karat yang tancap jantungmu
coba jahit robekan sisa-sisa jejak yang tertinggal di hutan pinus
saat kulihat matamu,
seakan kabut kian menebal
gerogoti jiwa beku yang tidur di tubuhmu
sobat,
andai kesetiaan diganti dengan hamburnya fatamorgana
masihkah penantian masih setia di terasmu ?
coba gapai mimpi di bekunya senja yang memutih?
sudahlah sobat,
tubuhmu sempoyongan karena kebanyakan bir yang racuni jiwamu
tidak mungkin gagak diganti nuri impianmu
sudahlah,
kabut itu memang ganggu hidupmu
cobalah berguru pada sepi kesunyian di senja nanti
percayalah, pasti ada jalan setapak yang tuntun hidupmu lagi. semoga
Senin, 09 November 2009
Karena Helai Burung
rembulan tadi malam bercerita padaku
sebuah sajak usang yang kini terusik
sebuah helai sayap burung membuat nadir sepinya
kawan, adakah cinta yang tak berbekas saat luka mengalir nan deras?
merahkan segala hasrat yang tenggelam dan beku ?
ataukah helai sayap itu koyakkan nurani
hingga mimpi kadang ganggu tidur setiap malam?
kawan, hilangkan helai sayap ini
bakarlah dalam tungku perapihanmu
hancur lebur dalam kebekuan deras hujan musim ini
aku pun berusaha tuk bantu sahabatku rembulan
tapi setiap helai sayap itu kucungkil
dalam diam dan pasti, sayap itu menjadi makin tumbuh dan lebat
kawan, kataku suatu hari
sayap itu adalah bagian dirimu
membuat terbang di ufuk pagi dan menghilang saat senja
bersahabatlah walau tangis itu terus mengucur dalam tubuh fanamu
ingatlah kawan,
kekekalan kan mewujud dalam perjalananmu malam ini, doaku
sebuah sajak usang yang kini terusik
sebuah helai sayap burung membuat nadir sepinya
kawan, adakah cinta yang tak berbekas saat luka mengalir nan deras?
merahkan segala hasrat yang tenggelam dan beku ?
ataukah helai sayap itu koyakkan nurani
hingga mimpi kadang ganggu tidur setiap malam?
kawan, hilangkan helai sayap ini
bakarlah dalam tungku perapihanmu
hancur lebur dalam kebekuan deras hujan musim ini
aku pun berusaha tuk bantu sahabatku rembulan
tapi setiap helai sayap itu kucungkil
dalam diam dan pasti, sayap itu menjadi makin tumbuh dan lebat
kawan, kataku suatu hari
sayap itu adalah bagian dirimu
membuat terbang di ufuk pagi dan menghilang saat senja
bersahabatlah walau tangis itu terus mengucur dalam tubuh fanamu
ingatlah kawan,
kekekalan kan mewujud dalam perjalananmu malam ini, doaku
Kamis, 05 November 2009
Untuk Anak-anakku
sejenak saat kopi sore di sisiku
berteman dengan asa di pelupuk mata
ingin kuceritakan padamu
tentang hidup yang pernah kudaki
atau biduk yang pernah singgah di tiap dermaga
nak, pasti kau akan alami
setiap ceruk-ceruk dan bukit-bukit kehidupan
banyak bunga dan duri yang kan kau temui
saat duri gores kulitmu,
jangan menangis nak, tetaplah tersenyum
duri hanyalah sisa harapan yang kan musnah
atau saat bunga terpetik di hidupmu,
nak, bersyukurlah padaNya
kau diberi percikan surga walau sesaat
ingat nak,
hidup adalah perjalanan
entah dimana kakimu akan singgahi suatu tempat
tetaplah berpegang pada leluhurmu
ehm, enak sekali kopi buatan mamamu
buat pa semakin sayang dan cinta
nak, jika sudah matang berbuah
carilah bibit yang tumbuh di tanah subur
ikatkan kembang pada altarNya
janjikan cinta suci tak berkesudahan
nak, jika daunku mau mulai rontok,
ingin kugendong cucu dari anakmu
kan ku tembangkan lagu pocung
seperti senja saat ini
sini, peluk papa
anak-anakku jadilah terang dan garam
hancurkan ketidakadilan, peganglah kejujuran
kelak pa dan ma kan menunggumu kelak
di dermaga yang namanya pernah ku katakan padamu saat kau tidur
berteman dengan asa di pelupuk mata
ingin kuceritakan padamu
tentang hidup yang pernah kudaki
atau biduk yang pernah singgah di tiap dermaga
nak, pasti kau akan alami
setiap ceruk-ceruk dan bukit-bukit kehidupan
banyak bunga dan duri yang kan kau temui
saat duri gores kulitmu,
jangan menangis nak, tetaplah tersenyum
duri hanyalah sisa harapan yang kan musnah
atau saat bunga terpetik di hidupmu,
nak, bersyukurlah padaNya
kau diberi percikan surga walau sesaat
ingat nak,
hidup adalah perjalanan
entah dimana kakimu akan singgahi suatu tempat
tetaplah berpegang pada leluhurmu
ehm, enak sekali kopi buatan mamamu
buat pa semakin sayang dan cinta
nak, jika sudah matang berbuah
carilah bibit yang tumbuh di tanah subur
ikatkan kembang pada altarNya
janjikan cinta suci tak berkesudahan
nak, jika daunku mau mulai rontok,
ingin kugendong cucu dari anakmu
kan ku tembangkan lagu pocung
seperti senja saat ini
sini, peluk papa
anak-anakku jadilah terang dan garam
hancurkan ketidakadilan, peganglah kejujuran
kelak pa dan ma kan menunggumu kelak
di dermaga yang namanya pernah ku katakan padamu saat kau tidur
Selasa, 03 November 2009
Usikmu Di Waktu Pagi
saat mentari dengan manja mengajakku menari
anginpun sibuk menghitung hembusan yang keluar dari mulutnya
menerbangkan angan yang kan pupus saat sore nanti
kataku padamu," Adakah musim salju mengusik tidurmu wahai angin?"
jawabmu," Tak ada yang mengusikku walau zaman ini kan tergulung dalam satu musim".
aku pun malu dengan jawabanmu
waktu buatku hanyalah sepenggal roti yang jatuh saat sarapan
atau sejumput teh tang jatuh di tepinya teko
aku coba hadapi
segala keluh kesah akan peradaban yang kian mencabik nurani
tenggelamkan tajamnya penaku
angin, ajak aku menghitung sisa usiaku
dan jika saatnya tiba
aku kan menari bersama sahabatku mentari di esok nanti
anginpun sibuk menghitung hembusan yang keluar dari mulutnya
menerbangkan angan yang kan pupus saat sore nanti
kataku padamu," Adakah musim salju mengusik tidurmu wahai angin?"
jawabmu," Tak ada yang mengusikku walau zaman ini kan tergulung dalam satu musim".
aku pun malu dengan jawabanmu
waktu buatku hanyalah sepenggal roti yang jatuh saat sarapan
atau sejumput teh tang jatuh di tepinya teko
aku coba hadapi
segala keluh kesah akan peradaban yang kian mencabik nurani
tenggelamkan tajamnya penaku
angin, ajak aku menghitung sisa usiaku
dan jika saatnya tiba
aku kan menari bersama sahabatku mentari di esok nanti
Senin, 02 November 2009
Masih Ada Bunga Sisa Hujan Malam Tadi
kenangan makin menganga
saat senja dan daun berguguran di pematang hatiku
Kaukah itu
coba nyalakan api yang telah padam
iringi dengan usiaMu yang mulai memutih
andai musim semi kembali dengan setangkai mawar merah
dan hatiMu seputih anggrek masih terlukis di tubuhMu
mungkin halaman padi yang tersiram hujan malam tadi
kan kuiringi kedatanganMu di sudut hatiku utuh
saat senja dan daun berguguran di pematang hatiku
Kaukah itu
coba nyalakan api yang telah padam
iringi dengan usiaMu yang mulai memutih
andai musim semi kembali dengan setangkai mawar merah
dan hatiMu seputih anggrek masih terlukis di tubuhMu
mungkin halaman padi yang tersiram hujan malam tadi
kan kuiringi kedatanganMu di sudut hatiku utuh
Langganan:
Postingan (Atom)