kutitipkan galau hatiku pada gemericiknya air hujan
coba bercengkerama pada dinginnya pagi
tenggelamkan setiap benih kesadaran dalam diam
wahai hujan, ceritakanlah padaku
sebuah episode tentang cinta sejati
sepasang kekasih yang terpisah dalam rentang waktu dan tempat
tapi, andai Kau tahu
waktu dan tempat tak sempat membelenggu jiwa yang melambung
pada asa yang terlukis di rendaanMu
kegalauan ini makin menyakitkan
hati tercabik dalam sunyi
nyanyian seakan sebuah himne yang aku sendiri tidak tahu
setiap gemericik air
kuingin dengarkan setiap harapan yang kan kujelang
walau galau ini tetap ada dan tak pupus
Sajak - sajak kehidupan yang ditulis oleh seorang manusia yang belajar untuk memaknai dalam kesederhanaan kata. Mencoba mengajak untuk merenung dan memaknai hidup. Dan semuanya hanyalah kedangkalan sikap dan kata jika hidup dipandang sebagai hidup itu sendiri.
Minggu, 06 Desember 2009
Rabu, 02 Desember 2009
Kan Ku Ukir
ingin ku ukir deretan kata rindu pada gemericik air
rindu akan samudera
rindu akan penerimaan diri total
ingin ku ukir desah cintaku pada gemerisik angin
cinta tak terbatas ruang dan waktu
cinta lengkapi bejana yang kosong
ingin ku ukir desah hasratku pada baranya api
hasrat akan anggur merah pesta
hasrat berpendar dalam siluet cakrawala
ingin ku ukir jejak hidup pada tubuhMu
jejak yang jatuh, terjerembab, bangun, dan berdiri
jejak yang tak pernah sia-sia
jejak dalam pahatan karyaMu
ingin ku ukir namaku dalam hatiMU
nama yang hanya Engkau dan aku yang tahu
nama yang jadikan mantera setiap hidup ini diperjuangkan
nama yang saatnya kan kembali dalam tanganMu
rindu akan samudera
rindu akan penerimaan diri total
ingin ku ukir desah cintaku pada gemerisik angin
cinta tak terbatas ruang dan waktu
cinta lengkapi bejana yang kosong
ingin ku ukir desah hasratku pada baranya api
hasrat akan anggur merah pesta
hasrat berpendar dalam siluet cakrawala
ingin ku ukir jejak hidup pada tubuhMu
jejak yang jatuh, terjerembab, bangun, dan berdiri
jejak yang tak pernah sia-sia
jejak dalam pahatan karyaMu
ingin ku ukir namaku dalam hatiMU
nama yang hanya Engkau dan aku yang tahu
nama yang jadikan mantera setiap hidup ini diperjuangkan
nama yang saatnya kan kembali dalam tanganMu
JELITA
duhai jelita yang kucinta
wangi tubuhMu bagai bunga yang mekar di musim semi
singgahi setiap imaji dalam kekal
merdu suaraMu bagai kidung bala surga
ronakan tiap relung hati yang mencinta
membeku dalam indah pelangi
duhai jelita yang kurindu
masih kurasa saat pagi Kau kecup hatiku
rindingkan sukma bagai gejolak ombak di ujung musim
gelorakan api yang ingin membuncah dalam diam
duhai jelita,
ingatkah saat senja dan saat semilir angin terbangkan asa
janji di depan altarMu
singgahi setiap dermaga kehidupan
wangi tubuhMu bagai bunga yang mekar di musim semi
singgahi setiap imaji dalam kekal
merdu suaraMu bagai kidung bala surga
ronakan tiap relung hati yang mencinta
membeku dalam indah pelangi
duhai jelita yang kurindu
masih kurasa saat pagi Kau kecup hatiku
rindingkan sukma bagai gejolak ombak di ujung musim
gelorakan api yang ingin membuncah dalam diam
duhai jelita,
ingatkah saat senja dan saat semilir angin terbangkan asa
janji di depan altarMu
singgahi setiap dermaga kehidupan
Selasa, 01 Desember 2009
Akhirnya
genggam hatiku saat kau goyah
memang, musim di tahun ini tak bersahabat
menorehkan luka di mana-mana
teruskanlah baca mantera
yang diwariskan leluhur kita
sibak segala kehampaan dalam kekinian
sobat, jika bekal di perjalanan nanti habis
dan saat burung prenjak bernyanyi di pekarangan leluhur
mungkin, sukma kan bersatu dalam tubuh yang baru
memang, musim di tahun ini tak bersahabat
menorehkan luka di mana-mana
teruskanlah baca mantera
yang diwariskan leluhur kita
sibak segala kehampaan dalam kekinian
sobat, jika bekal di perjalanan nanti habis
dan saat burung prenjak bernyanyi di pekarangan leluhur
mungkin, sukma kan bersatu dalam tubuh yang baru
Perjalanan Dalam Hening
diam
bernafas
pikiran berlari dan berkejar-kejaran
coba diam
atur nafas
pikiran menggelayut manja di ufuk timur
tetap diam
nafas perlahan
pikiran tenang, surga pun nampak
diam tak terbatas
nafas melambat
pikiran tak ada, surga lenyap
diam yang kekal
nafas tak ada
tiba-tiba aku tlah di depan pintuMu
bernafas
pikiran berlari dan berkejar-kejaran
coba diam
atur nafas
pikiran menggelayut manja di ufuk timur
tetap diam
nafas perlahan
pikiran tenang, surga pun nampak
diam tak terbatas
nafas melambat
pikiran tak ada, surga lenyap
diam yang kekal
nafas tak ada
tiba-tiba aku tlah di depan pintuMu
Kontemplatif
adakah tawa dalam tangis
adakah manis dalam pahit
adakah warna dalam gelap
adakah harapan dalam kesesakan
adakah penantian dalam kegelisahan
adakah iman dalam kejahatan
adakah kesucian dalam kesesatan
adakah cinta dalam benci
yang pasti, aku percaya
kita telah terombang-ambing
dalam ketidakpastian
jadi, siapakah kita sebenarnya ?
adakah manis dalam pahit
adakah warna dalam gelap
adakah harapan dalam kesesakan
adakah penantian dalam kegelisahan
adakah iman dalam kejahatan
adakah kesucian dalam kesesatan
adakah cinta dalam benci
yang pasti, aku percaya
kita telah terombang-ambing
dalam ketidakpastian
jadi, siapakah kita sebenarnya ?
Titik Malam Nanti
di ujung malam nanti
mungkin ada doa, mungkin ada surga
buat pertapa yang rindu kesunyian
coba padamkan segala hasrat yang sesaat
rinduku padaMU
bagai air di ujung ilalang
mencoba bertahan dalam ketidakpastian dunia
bernyanyi walau suara kadang hanya kelu di tenggorokan
akhirnya
rindu ini ingin kugoreskan dalam sunyi
dan,
jika tertidur aku mau Kau bangunkan sadarku
mungkin ada doa, mungkin ada surga
buat pertapa yang rindu kesunyian
coba padamkan segala hasrat yang sesaat
rinduku padaMU
bagai air di ujung ilalang
mencoba bertahan dalam ketidakpastian dunia
bernyanyi walau suara kadang hanya kelu di tenggorokan
akhirnya
rindu ini ingin kugoreskan dalam sunyi
dan,
jika tertidur aku mau Kau bangunkan sadarku
Langganan:
Postingan (Atom)