Rabu, 24 Februari 2010

Di Ujung Waktu

ujung bukan berarti batas
titik itu sebagai arah pijak kemana kita kan pergi
tak ada yang pungkiri
titik itu bagai oase
hasil tabungan peluh keringat dan air mata
kita memang bukan pendoa
tapi kalung rosari ini selalu terlingkar di leher kita
ajak agar selalu berharap
agar ujung itu menjadi harapan
sebuah cinta yang ikhlas tanpa pamrih
sebuah kasih yang sejati
sebuah rumah idaman dengan taman yang penuh bunga

Andai

siluet itu menyergapku dalam dingin
coba sibak segala rasa terpendam
berputar dalam bekunya batu pualam
benarkah suatu yang melebur dalam jiwa adalah syair terindah?
bukankah itu adalah kekosongan yang hakiki?
ah, desahku pada hujan musim ini
ternyata mereka adalah pengembara yang tersesat dalam egonya
biarkan saja
mentari kan bawa penemuan jati dirinya nanti

Selasa, 23 Februari 2010

Foto Kita Ndhuk

ndhuk, papa kan pulang
dengan permen coklat kesukaanmu
atau buku gambar yang selalu engkau lukis
sebuah kereta api yang berjalan di ujung senja
katamu suatu saat," Papa naik kereta ini ke negeri yang janjikan masa depanku."
ndhuk, papa kan cepat pulang
dengan buku-buku mewarnai
dan kau selalu warnai dalam keceriaan manjamu
katamu suatu saat," Pa, Ada nggak gambar seorang anak kecil perempuan dan papanya? Agar Pi dapat mewarnainya. Pi sangat senang gambar itu Pa."
aku pun cari selalu buku gambar itu
bahkan dari tiap stasiun yang kusinggahi
atau setiap rel kereta yang selalu menemaniku, tidak ada
ndhuk, papa telah pulang
dan papa tlah bawa gambar itu
ya, ternyata gambar itu adalah fotoku bersamammu

Dekap Sepi

bergelayut
memeluk
berpendar dalam desah
warnai bayangan sejati
rekahkan merah bibirmu
sepi
kosong
dalam diam ada bayangan
dan ternyata
bayangan itu adalah bayanganku sendiri
mencoba merengkuh
berlari
jatuh
bangkit lagi dengan sinar temaram di ujung senja
diterangi lampu teplok
membaca guratan nasib
memanterai
memeluk rosari mawar merah
diam
sendiri
tiba-tiba
Engkau datang
bawakan salibku di golgotaMu

Minggu, 14 Februari 2010

Di Suatu Pagi

kita susuri jalan ini
pohon, bunga, rumput, dan gemericik air sungai mengerlingkan matanya
saat kucium bibirMu
ada siluet mentari terangi wajahMu yang ayu
pagi yang indah
tebarkan jiwa yang mencinta