mentari seakan enggan menyapaku
walau hidup tetap tergambar di ujung jalan setapak tadi
adakah capingmu coba tutupi
segala masa lalu yang cabik hari ini?
jika kita sampai di ujung jalan ini
dan mentari mau menyapa
buatlah pundi yang tak kan usang dan rusak
Sajak - sajak kehidupan yang ditulis oleh seorang manusia yang belajar untuk memaknai dalam kesederhanaan kata. Mencoba mengajak untuk merenung dan memaknai hidup. Dan semuanya hanyalah kedangkalan sikap dan kata jika hidup dipandang sebagai hidup itu sendiri.
Rabu, 21 Oktober 2009
Senin, 19 Oktober 2009
Teruskan Langkahmu
kaukah itu?
menabur kembang di gerimisnya pagi
coba tuk hiasi tanah yang memerah
leburkan dosa-dosa yang pernah terjalani
andai bunga itu tumbuh
lalu berbicara tentang sisa hidupmu
entah hitam atau putih
kejujuran pasti terjawab
jangan tangisi masa lalu
masih ada jejak di depan sana
coba tulisi hidup yang baru
gapai segala kesucian dan kebenaran
ya, teruskan berjalan sobat
walau kabut itu makin menebal
menabur kembang di gerimisnya pagi
coba tuk hiasi tanah yang memerah
leburkan dosa-dosa yang pernah terjalani
andai bunga itu tumbuh
lalu berbicara tentang sisa hidupmu
entah hitam atau putih
kejujuran pasti terjawab
jangan tangisi masa lalu
masih ada jejak di depan sana
coba tulisi hidup yang baru
gapai segala kesucian dan kebenaran
ya, teruskan berjalan sobat
walau kabut itu makin menebal
Untuk Istriku
sayang, peluk aku
gigil malam ini seakan enggan pergi
cahaya bintang coba terabas jendela
ah, ingin malam ini coba manjakan imaji
cinta seputih kapas terpatri di ujung altar
sayang, eratkan tangan kita
jelang impian yang datang
bersama kereta kencana
berjalan dalam bulan merah yang merekah
( mama sayang )
gigil malam ini seakan enggan pergi
cahaya bintang coba terabas jendela
ah, ingin malam ini coba manjakan imaji
cinta seputih kapas terpatri di ujung altar
sayang, eratkan tangan kita
jelang impian yang datang
bersama kereta kencana
berjalan dalam bulan merah yang merekah
( mama sayang )
Peluk Aku Nak
nak, peluk papa
senyum manjamu kikis rinduku
tangan kecilmu coba sibakkan hati yang gersang
basahi debu sisa perjalanan tadi
nak, peluk papa
candamu runtuhkan penatnya ibu kota
guyurkan sisi tangis yang lara
nak, peluk papa
coba daraskan doa tiap malam
agar harapan kan datang
bersama pelangi di teras rumah kita
(untuk Pi kecilku )
senyum manjamu kikis rinduku
tangan kecilmu coba sibakkan hati yang gersang
basahi debu sisa perjalanan tadi
nak, peluk papa
candamu runtuhkan penatnya ibu kota
guyurkan sisi tangis yang lara
nak, peluk papa
coba daraskan doa tiap malam
agar harapan kan datang
bersama pelangi di teras rumah kita
(untuk Pi kecilku )
Selasa, 13 Oktober 2009
Tak Ada Yang Kekal
tak ada yang kekal
semua bagai fatamorgana di senja hari
menggelinjang dalam hampa
mahirkan kenisbian yang berputar
adakah lesung pipit di pipimu berpendar?
hingga koyakan setia kan pudar?
masih saja burung bertengger di rontoknya daun
coba hitung helai demi helai putih rambutku
duhai Sang Dalang
apakah hidup kan terpinggir dalam batas yang semu
ataukah kekekalan hanyalah cerita fiksi di senja ini
permainan ini belum usai
kadang, aku dan Kau tahu itu
coba artikan gerimis hujan di bulan ini
semua bagai fatamorgana di senja hari
menggelinjang dalam hampa
mahirkan kenisbian yang berputar
adakah lesung pipit di pipimu berpendar?
hingga koyakan setia kan pudar?
masih saja burung bertengger di rontoknya daun
coba hitung helai demi helai putih rambutku
duhai Sang Dalang
apakah hidup kan terpinggir dalam batas yang semu
ataukah kekekalan hanyalah cerita fiksi di senja ini
permainan ini belum usai
kadang, aku dan Kau tahu itu
coba artikan gerimis hujan di bulan ini
Minggu, 11 Oktober 2009
Semoga Usai Di Senja Ini
rasakan degup jantungku
saat waktu mengharuskan pergi
entah ke negri dongeng atau khayalan di senja hari
keretamu tlah datang
menjemput jiwa ini terenggut dalam sepi
diam anak istri seakan tangis yang dalam
akankah waktu tergambar dalam sebuah episode yang baru
hentikan reinkarnasi yang usang
atau kainMu tlah tergambar utuh
jawabanMu samar kudengar
iringi nyanyian deru gerbong senja ini
saat waktu mengharuskan pergi
entah ke negri dongeng atau khayalan di senja hari
keretamu tlah datang
menjemput jiwa ini terenggut dalam sepi
diam anak istri seakan tangis yang dalam
akankah waktu tergambar dalam sebuah episode yang baru
hentikan reinkarnasi yang usang
atau kainMu tlah tergambar utuh
jawabanMu samar kudengar
iringi nyanyian deru gerbong senja ini
Rabu, 07 Oktober 2009
Kembali ke RumahMu
jika karat mengerat dalam keris
mantra pun menjelma hampa
dan wahyu keprabon silih
rombaklah bejana masa lalu
hingga keping pudar tak bersisa
lalu,
cawan baruku tlah ada
dalam anggur merah pesta
ramuan sisa-sisa pertobatan hidupku
aha,
rumahMu samar kulihat di bukit itu
cahaya lilin kerjabkan cinta tak berpaling
aku bawa anggur ini dalam cawan berukir emas
jika pestaMu mulai
aku bawakan anggur di rumahMu
mantra pun menjelma hampa
dan wahyu keprabon silih
rombaklah bejana masa lalu
hingga keping pudar tak bersisa
lalu,
cawan baruku tlah ada
dalam anggur merah pesta
ramuan sisa-sisa pertobatan hidupku
aha,
rumahMu samar kulihat di bukit itu
cahaya lilin kerjabkan cinta tak berpaling
aku bawa anggur ini dalam cawan berukir emas
jika pestaMu mulai
aku bawakan anggur di rumahMu
Baru
kepakan sayap nuri terdengar
di sisi pantai yang menangis
tinggalkan pesan pada anak-anak kehidupan
dunia yang akan kiamat
tanggalkan pakaianmu
lepaskan kebaya yang kau kenakan
biar dinginNya cengkeram manjamu
kepakan itu terdengar lagi
bawa sandang baru
sebuah sayap emas
berukir sebuah nama yang tak asing bagiku
di sisi pantai yang menangis
tinggalkan pesan pada anak-anak kehidupan
dunia yang akan kiamat
tanggalkan pakaianmu
lepaskan kebaya yang kau kenakan
biar dinginNya cengkeram manjamu
kepakan itu terdengar lagi
bawa sandang baru
sebuah sayap emas
berukir sebuah nama yang tak asing bagiku
Senin, 05 Oktober 2009
Sampai
sejenak aku sadari
perjalanan hidup kian menipis
dalam guratan tangan atau dalam bekunya pagi
ingin, kidung yang sumbang kian kikis
segala gundah gulana terkikis
di sepinya pagi ini
bayu pun enggan menitis
dalam bongkahan batu berbaris
jari yang tengadahi gerimis
kucoba dalam titisan pagi
perjalanan hidup kian menipis
dalam guratan tangan atau dalam bekunya pagi
ingin, kidung yang sumbang kian kikis
segala gundah gulana terkikis
di sepinya pagi ini
bayu pun enggan menitis
dalam bongkahan batu berbaris
jari yang tengadahi gerimis
kucoba dalam titisan pagi
Langganan:
Postingan (Atom)