Rabu, 21 Oktober 2009

Episode 1

mentari seakan enggan menyapaku
walau hidup tetap tergambar di ujung jalan setapak tadi
adakah capingmu coba tutupi
segala masa lalu yang cabik hari ini?
jika kita sampai di ujung jalan ini
dan mentari mau menyapa
buatlah pundi yang tak kan usang dan rusak

Senin, 19 Oktober 2009

Teruskan Langkahmu

kaukah itu?
menabur kembang di gerimisnya pagi
coba tuk hiasi tanah yang memerah
leburkan dosa-dosa yang pernah terjalani
andai bunga itu tumbuh
lalu berbicara tentang sisa hidupmu
entah hitam atau putih
kejujuran pasti terjawab
jangan tangisi masa lalu
masih ada jejak di depan sana
coba tulisi hidup yang baru
gapai segala kesucian dan kebenaran
ya, teruskan berjalan sobat
walau kabut itu makin menebal

Untuk Istriku

sayang, peluk aku
gigil malam ini seakan enggan pergi
cahaya bintang coba terabas jendela
ah, ingin malam ini coba manjakan imaji
cinta seputih kapas terpatri di ujung altar
sayang, eratkan tangan kita
jelang impian yang datang
bersama kereta kencana
berjalan dalam bulan merah yang merekah

( mama sayang )

Peluk Aku Nak

nak, peluk papa
senyum manjamu kikis rinduku
tangan kecilmu coba sibakkan hati yang gersang
basahi debu sisa perjalanan tadi
nak, peluk papa
candamu runtuhkan penatnya ibu kota
guyurkan sisi tangis yang lara
nak, peluk papa
coba daraskan doa tiap malam
agar harapan kan datang
bersama pelangi di teras rumah kita

(untuk Pi kecilku )

Selasa, 13 Oktober 2009

Tak Ada Yang Kekal

tak ada yang kekal
semua bagai fatamorgana di senja hari
menggelinjang dalam hampa
mahirkan kenisbian yang berputar
adakah lesung pipit di pipimu berpendar?
hingga koyakan setia kan pudar?
masih saja burung bertengger di rontoknya daun
coba hitung helai demi helai putih rambutku
duhai Sang Dalang
apakah hidup kan terpinggir dalam batas yang semu
ataukah kekekalan hanyalah cerita fiksi di senja ini
permainan ini belum usai
kadang, aku dan Kau tahu itu
coba artikan gerimis hujan di bulan ini

Minggu, 11 Oktober 2009

Semoga Usai Di Senja Ini

rasakan degup jantungku
saat waktu mengharuskan pergi
entah ke negri dongeng atau khayalan di senja hari
keretamu tlah datang
menjemput jiwa ini terenggut dalam sepi
diam anak istri seakan tangis yang dalam
akankah waktu tergambar dalam sebuah episode yang baru
hentikan reinkarnasi yang usang
atau kainMu tlah tergambar utuh
jawabanMu samar kudengar
iringi nyanyian deru gerbong senja ini

Rabu, 07 Oktober 2009

Kembali ke RumahMu

jika karat mengerat dalam keris
mantra pun menjelma hampa
dan wahyu keprabon silih
rombaklah bejana masa lalu
hingga keping pudar tak bersisa
lalu,
cawan baruku tlah ada
dalam anggur merah pesta
ramuan sisa-sisa pertobatan hidupku
aha,
rumahMu samar kulihat di bukit itu
cahaya lilin kerjabkan cinta tak berpaling
aku bawa anggur ini dalam cawan berukir emas
jika pestaMu mulai
aku bawakan anggur di rumahMu

Baru

kepakan sayap nuri terdengar
di sisi pantai yang menangis
tinggalkan pesan pada anak-anak kehidupan
dunia yang akan kiamat
tanggalkan pakaianmu
lepaskan kebaya yang kau kenakan
biar dinginNya cengkeram manjamu
kepakan itu terdengar lagi
bawa sandang baru
sebuah sayap emas
berukir sebuah nama yang tak asing bagiku

Senin, 05 Oktober 2009

Sampai

sejenak aku sadari
perjalanan hidup kian menipis
dalam guratan tangan atau dalam bekunya pagi
ingin, kidung yang sumbang kian kikis
segala gundah gulana terkikis
di sepinya pagi ini
bayu pun enggan menitis
dalam bongkahan batu berbaris
jari yang tengadahi gerimis
kucoba dalam titisan pagi