doamu menggema di dasar hatiku
usir kelam dalam pijar cahaya
mengikis dalam temaramnya senja
usaikah zikir tuk gogrokkan hitam?
semua tertiup angin surga
kembali menjadi bayi lagi
Sajak - sajak kehidupan yang ditulis oleh seorang manusia yang belajar untuk memaknai dalam kesederhanaan kata. Mencoba mengajak untuk merenung dan memaknai hidup. Dan semuanya hanyalah kedangkalan sikap dan kata jika hidup dipandang sebagai hidup itu sendiri.
Selasa, 27 Juli 2010
Selasa, 06 Juli 2010
Episode Waktu
Saat bulan ranum di tepian malam
Dan angin yang sentuh makna hidup
Atau saat daun yang jatuh meranggas dari tubuhnya
Dan desah air mengalir di pematang hati
Ingin kutorehkan syair untukmu di keheningan
Bersama embusan Bayu yang gigilkan suara hati
Bersama deburan ombak yang gelorakan semangat dan kejujuran
Bersama kepakan sayap burung yang pulang ke sarang
Dan bersama fajar yang tersenyum di bukit itu
Bayu, ombak, burung, dan fajar
Suatu roda yang menggelinding dalam ketidakpastian
Mencoba merenda segala yang fana
Membungkus dalam hening dan ikat makna dalam karang
Sobat, tahukah kau?
Saat ibu kehidupan mengandung
Saat langit merah terkuak
Saat semesta menyambut kehidupan
Saat titik hidup dan mati tak ada batasnya,
Kaulah Bayu yang dengarkan tembang cinta
Kaulah Bayu yang bersemayam di palung kehidupan
Kaulah Bayu yang keluarkan tangis di fananya dunia.
Waktupun bergulir perlahan nan pasti
Saat hidup kau cecap
Saat kau injakkan bersahabat dengan kenyataan
Saat kau rasakan dinginnya nurani
Kaulah Ombak dengan semangat mudamu
Kaulah Ombak tuk gulung segala kepahitan hidup
Kaulah Ombak tenggelamkan garam kehidupan
Ada waktu di mana sauh harus kau tambatkan
Ada waktu di mana layar harus kau gulung
Dan ada waktu kau ceritakan tanah asing yang kau labuhi
Kaulah Burung yang setia tuk pulang
Kaulah Burung yang ceritakan dongeng pada kami
Kaulah Burung yang terpekur di heningnya malam
Saat kau terbangun di pagi hari
Saat bagaskara dengan malunya menyembul di bukit itu
Saat kicauan burung buyarkan malam tadi
Saat Sang Khalik menyambut segala doa dan persembahan
Kaulah Fajar yang gemakan hidup baru
Kaulah Fajar yang lengkapi hidup dengan segala karya dan tugas
Kaulah Fajar yang mengidungkan tembang kehidupan
Sobat, jika kidung itu telah selesai kau nyanyikan
Bersama cahaya kunang-kunang yang menari dengan peri kecil
Dan saat alunan musik kehidupan telah mengalir dalam hening dan diam
Segala doa selalu terucap dalam hati kami
Dan angin yang sentuh makna hidup
Atau saat daun yang jatuh meranggas dari tubuhnya
Dan desah air mengalir di pematang hati
Ingin kutorehkan syair untukmu di keheningan
Bersama embusan Bayu yang gigilkan suara hati
Bersama deburan ombak yang gelorakan semangat dan kejujuran
Bersama kepakan sayap burung yang pulang ke sarang
Dan bersama fajar yang tersenyum di bukit itu
Bayu, ombak, burung, dan fajar
Suatu roda yang menggelinding dalam ketidakpastian
Mencoba merenda segala yang fana
Membungkus dalam hening dan ikat makna dalam karang
Sobat, tahukah kau?
Saat ibu kehidupan mengandung
Saat langit merah terkuak
Saat semesta menyambut kehidupan
Saat titik hidup dan mati tak ada batasnya,
Kaulah Bayu yang dengarkan tembang cinta
Kaulah Bayu yang bersemayam di palung kehidupan
Kaulah Bayu yang keluarkan tangis di fananya dunia.
Waktupun bergulir perlahan nan pasti
Saat hidup kau cecap
Saat kau injakkan bersahabat dengan kenyataan
Saat kau rasakan dinginnya nurani
Kaulah Ombak dengan semangat mudamu
Kaulah Ombak tuk gulung segala kepahitan hidup
Kaulah Ombak tenggelamkan garam kehidupan
Ada waktu di mana sauh harus kau tambatkan
Ada waktu di mana layar harus kau gulung
Dan ada waktu kau ceritakan tanah asing yang kau labuhi
Kaulah Burung yang setia tuk pulang
Kaulah Burung yang ceritakan dongeng pada kami
Kaulah Burung yang terpekur di heningnya malam
Saat kau terbangun di pagi hari
Saat bagaskara dengan malunya menyembul di bukit itu
Saat kicauan burung buyarkan malam tadi
Saat Sang Khalik menyambut segala doa dan persembahan
Kaulah Fajar yang gemakan hidup baru
Kaulah Fajar yang lengkapi hidup dengan segala karya dan tugas
Kaulah Fajar yang mengidungkan tembang kehidupan
Sobat, jika kidung itu telah selesai kau nyanyikan
Bersama cahaya kunang-kunang yang menari dengan peri kecil
Dan saat alunan musik kehidupan telah mengalir dalam hening dan diam
Segala doa selalu terucap dalam hati kami
Inginku
Ingin kukenang hidup ini dengan ranggasnya daun-daun di musim kemarau
Atau torehan tinta pada daun yang tak kering
Adakah sang waktu bersahabat pada untaian nafas?
Atau terus berseteru pada badan yang kan sirna?
Ingin kukenang hidup
Dengan pengembaraan yang tak kan usai di ujung cakrawala.
Atau torehan tinta pada daun yang tak kering
Adakah sang waktu bersahabat pada untaian nafas?
Atau terus berseteru pada badan yang kan sirna?
Ingin kukenang hidup
Dengan pengembaraan yang tak kan usai di ujung cakrawala.
Tarian Angin
Angin yang lewat di lubang jendela mengajakku menari
Katanya :“Tangismu, adalah gerakan sayap-sayapku
Terbang di setiap relung hatimu
Menaburkan sisa tangis kemarin agar hilang
hingga tak ada tangismu yang lara”
Aku tersenyum dengan segala gundah hati yang tak terucap
Tapi kuingin menari bersama angin itu
Katanya :“Tangismu, adalah gerakan sayap-sayapku
Terbang di setiap relung hatimu
Menaburkan sisa tangis kemarin agar hilang
hingga tak ada tangismu yang lara”
Aku tersenyum dengan segala gundah hati yang tak terucap
Tapi kuingin menari bersama angin itu
Rindu Ibu
Kuingin memeluk ibu
Menyandarkan segala letih sisa perjalanan ini
Bercerita tentang alam di luar rahimnya
Buat pelangi di setiap desah nafas
Oh ibu, aku ingin pulang
Ceritakan letihnya salib ini
Agar kuat tuk bangkit saat cium tanah gersang
Agar semua baik-baik saja
Ibu, tahukah engkau
Anakmu hidup di warna hidup yang tak pasti
Berkelana sangat jauh
Tinggalkan rahim yang pernah buatku tidur lelap
Menyandarkan segala letih sisa perjalanan ini
Bercerita tentang alam di luar rahimnya
Buat pelangi di setiap desah nafas
Oh ibu, aku ingin pulang
Ceritakan letihnya salib ini
Agar kuat tuk bangkit saat cium tanah gersang
Agar semua baik-baik saja
Ibu, tahukah engkau
Anakmu hidup di warna hidup yang tak pasti
Berkelana sangat jauh
Tinggalkan rahim yang pernah buatku tidur lelap
Senin, 05 Juli 2010
Untuk Ndhukku
ndhuk, papa kan pulang
memelukmu dan menggendongmu
coba bercerita pada penatnya ibu kota
atau penggalan hidup yang selalu kubawa
ndhuk, papa bawa buku gambar
kadang diam2 papa selalu lihat engkau
menggambar kereta dan seorang lelaki di dekatnya
papa tahu, ternyata engkau menggambar papa
kadang papa ingin menitikkan air mata
tapi papa malu padamu
katamu suatu hari,"Papaku adalah seorang yang tegar"
itulah mengapa aku kelihatan dingin karena tersimpan luka yang kadang menganga
ndhuk, papa kan pulang
suatu saat nanti
papa kan ceritakan tentang cinta sejati, cinta yang abadi
sebuah perjuangan yang membutuhkan kebesaran jiwa
ndhuk, papa kan pulang
memelukmu dan menggendongmu
coba bercerita pada penatnya ibu kota
atau penggalan hidup yang selalu kubawa
ndhuk, papa bawa buku gambar
kadang diam2 papa selalu lihat engkau
menggambar kereta dan seorang lelaki di dekatnya
papa tahu, ternyata engkau menggambar papa
kadang papa ingin menitikkan air mata
tapi papa malu padamu
katamu suatu hari,"Papaku adalah seorang yang tegar"
itulah mengapa aku kelihatan dingin karena tersimpan luka yang kadang menganga
ndhuk, papa kan pulang
suatu saat nanti
papa kan ceritakan tentang cinta sejati, cinta yang abadi
sebuah perjuangan yang membutuhkan kebesaran jiwa
ndhuk, papa kan pulang
Lihat Diri
sisakan air mata
dalam heningnya cinta suci
rasakan peluh di pipi
tenggelamkan harapan di hati
dulu, sekarang, besok
hanya Engkau yang mengertiku
dalam heningnya cinta suci
rasakan peluh di pipi
tenggelamkan harapan di hati
dulu, sekarang, besok
hanya Engkau yang mengertiku
Perjalanan
jika bulan terenda di atas bantal
sungginganMu selalu terpatri di alam mimpiku
coba menari dengan sukma
kekalkan perjanjian yang tertulis
warna bagai lekuk-lekuk indah tubuhMu
baca kitab bagai baca syair
lagukan tembang pangkur di pelataran kakekku
ya, kristal warnamu t'lah berpendar
naungi langkah yang ku jelang saat gerimis mulai reda
sungginganMu selalu terpatri di alam mimpiku
coba menari dengan sukma
kekalkan perjanjian yang tertulis
warna bagai lekuk-lekuk indah tubuhMu
baca kitab bagai baca syair
lagukan tembang pangkur di pelataran kakekku
ya, kristal warnamu t'lah berpendar
naungi langkah yang ku jelang saat gerimis mulai reda
Jumat, 02 Juli 2010
Diam 1
sudah kutahu, bahwa laut menyimpan misteri
ombaknya yang bergelora seakan tunjukkan siapa dirinya
dan yang kutahu saat ini
setiap pagi bahkan malam, mentari kan setia menunggu
rindu pada indahnya pelangi
rindu akan pekatnya siluet malam
di batu ini,
kugambar laut tuk ungkapkan hatiku
pada birunya luka
coba goreskan keniscayaan
prasastikan setiap nyanyian prenjak di sore hari
ombaknya yang bergelora seakan tunjukkan siapa dirinya
dan yang kutahu saat ini
setiap pagi bahkan malam, mentari kan setia menunggu
rindu pada indahnya pelangi
rindu akan pekatnya siluet malam
di batu ini,
kugambar laut tuk ungkapkan hatiku
pada birunya luka
coba goreskan keniscayaan
prasastikan setiap nyanyian prenjak di sore hari
Langganan:
Postingan (Atom)