duka tawa biasa kusambangi
balutkan sesal harap di ujung kainMu
merangkul sinar cintaMu di setiap tasbih
hingga mimpi tiba2 di depan pintuMu
tak ada kata nan diam
mencoba bicara
tapi bahasa yang kuucapkan tak kumengerti
tapi Engkau tersenyum dan mengajakku tersenyum
di ujung temaram malam
bersama merenungi jejak yang pernah kulangkahkan
ada noktah, tapi semua tak berarti bagiMu
Sajak - sajak kehidupan yang ditulis oleh seorang manusia yang belajar untuk memaknai dalam kesederhanaan kata. Mencoba mengajak untuk merenung dan memaknai hidup. Dan semuanya hanyalah kedangkalan sikap dan kata jika hidup dipandang sebagai hidup itu sendiri.
Rabu, 27 Oktober 2010
Kamis, 21 Oktober 2010
Sendiri
andai Kau tahu
rasa perih karena rindu sungguh sesakkan
sakit, serasa terbuang dalam rahimNya
sepi, sendiri, gelisah
matikan hasrat semesta
coba berjalan dalam kesunyian
rasa perih karena rindu sungguh sesakkan
sakit, serasa terbuang dalam rahimNya
sepi, sendiri, gelisah
matikan hasrat semesta
coba berjalan dalam kesunyian
Syairku
kutitipkan syair ini
pada jiwa yang menangis
akan rajamnya rindu
tilik dalam heningnya doa
kutitipkan syair ini
pada ilalang yang merindu
getarkan rasa
reguk rindu dalam bejanaNya
syairku adalah syair ilalang
sendiri di sahara maha luas
renungkan kesendirian
renungkan kehampaan
pada jiwa yang menangis
akan rajamnya rindu
tilik dalam heningnya doa
kutitipkan syair ini
pada ilalang yang merindu
getarkan rasa
reguk rindu dalam bejanaNya
syairku adalah syair ilalang
sendiri di sahara maha luas
renungkan kesendirian
renungkan kehampaan
Rabu, 20 Oktober 2010
Suatu Senja
di senja hari
kutemukan kepingan hati yang sakit
sejenak kubaca dalam gerimis
untaian kisah yang terpatri
dalam bekunya hati
aku dengar sebuah kisah
sebuah perjalanan yang panjang
pengembaraan dengan kaki yang redam
berusaha gapai asa di bintang
kucoba mengajakmu tersenyum
dalam hati dalam galau
katamu suatu waktu
'bukankah lima hari lebih hangat dari satu hari?'
akupun mengangguk dan serahkan kepingan hati ini
kutemukan kepingan hati yang sakit
sejenak kubaca dalam gerimis
untaian kisah yang terpatri
dalam bekunya hati
aku dengar sebuah kisah
sebuah perjalanan yang panjang
pengembaraan dengan kaki yang redam
berusaha gapai asa di bintang
kucoba mengajakmu tersenyum
dalam hati dalam galau
katamu suatu waktu
'bukankah lima hari lebih hangat dari satu hari?'
akupun mengangguk dan serahkan kepingan hati ini
Langganan:
Postingan (Atom)