jawaban tidak diperlukan saat kebenaran ada
pertanyaan seakan sirna saat Kau datang
buratkan mimpi yang ditelan embun
mantrakan doa dari hati yang terdalam
akankah hidup dan mati beriringan?
maknai isak tangis dan tawa
tapi semua bagai tak ada artinya
buat badranaya, semua sama dan tak ada bedanya
kadang angin yang telah pergi
hanya sisakan suara saja
berlari di setiap akhir nafas
kalau besok dan hari ini sama saja
senyumMu sama dengan tangisMU
Ah, Kau sedang tersenyum saat kubaca sajak ini
Sajak - sajak kehidupan yang ditulis oleh seorang manusia yang belajar untuk memaknai dalam kesederhanaan kata. Mencoba mengajak untuk merenung dan memaknai hidup. Dan semuanya hanyalah kedangkalan sikap dan kata jika hidup dipandang sebagai hidup itu sendiri.
Rabu, 30 September 2009
Minggu, 13 September 2009
Percakapan Pagi Ini
belum ada akhir
waktu seakan ingin kusudahi
coba tengadahkan harapan yang lebih baik
mengapa kau menangis anakku?
bukankah jalan ini yang kau pilih
taburan onak dan duri tertabur di penghujung pagi?
bangkitlah anakku!
hidup bukanlah kematian harapan
selalu coba melangkah walau perih dan sesak di dada
Tuhan, sangat ruwet fananya hidup ini
Kau selalu nyatakan hingga aku terkapar dalam sepi
merangkak dalam lumpur dan kerasnya karang
Ah, mana kesetianmu?
bukankah salib ini harus kaupanggul
ayo, Aku sudah menunggumu di sini
Tuhan, adakah malaikatMu bopong aku?
koyakkan ikatan sedih dan pilu?
longgarkan kaki ini agar tetap terus bertahan
anakKu, bukankah engkau selalu Kugendong?
lewati pagi dan malam abad ini?
celupkan RohKu dalam tenggorokanmu ?
air mata ini terkuras bagai sungai Gangga
menetes dan bercampur dengan darah di cawanMu
kucoba melangkah bersamaMu dengan salibKu yang tak ada artinya dibanding denganMu.
waktu seakan ingin kusudahi
coba tengadahkan harapan yang lebih baik
mengapa kau menangis anakku?
bukankah jalan ini yang kau pilih
taburan onak dan duri tertabur di penghujung pagi?
bangkitlah anakku!
hidup bukanlah kematian harapan
selalu coba melangkah walau perih dan sesak di dada
Tuhan, sangat ruwet fananya hidup ini
Kau selalu nyatakan hingga aku terkapar dalam sepi
merangkak dalam lumpur dan kerasnya karang
Ah, mana kesetianmu?
bukankah salib ini harus kaupanggul
ayo, Aku sudah menunggumu di sini
Tuhan, adakah malaikatMu bopong aku?
koyakkan ikatan sedih dan pilu?
longgarkan kaki ini agar tetap terus bertahan
anakKu, bukankah engkau selalu Kugendong?
lewati pagi dan malam abad ini?
celupkan RohKu dalam tenggorokanmu ?
air mata ini terkuras bagai sungai Gangga
menetes dan bercampur dengan darah di cawanMu
kucoba melangkah bersamaMu dengan salibKu yang tak ada artinya dibanding denganMu.
Selasa, 01 September 2009
Awal
fitrahmu tergambar di setiap lekukan nafas
membahana dalam diam
mereguk setiap tetes embun yang jatuh di dedaunan
alangkah tegar hatimu
bagai butir air yang terjun di atas karang
kikis segala kesombongan dan kekanakan
terimalah air sewindu yang kusimpan dalam bejana ini
legakan segala hasrat dan sayang
tuk titi hidup yang tak bertepi
membahana dalam diam
mereguk setiap tetes embun yang jatuh di dedaunan
alangkah tegar hatimu
bagai butir air yang terjun di atas karang
kikis segala kesombongan dan kekanakan
terimalah air sewindu yang kusimpan dalam bejana ini
legakan segala hasrat dan sayang
tuk titi hidup yang tak bertepi
Langganan:
Postingan (Atom)