Kamis, 27 Agustus 2009

Selalu Ada

duri yang tindas dagingmu akan ku cuil
hingga kau bebas tak terikat
sayang, bukankah fatamorgana hanyalah kesirnaan harapan?
bukankah bayu yang lembut selalu menjelma di sudut hatimu
jika esok dan hari ini sama saja
kuingin temani dirimu utuh
bercerita dan bernyanyi tembang kehidupan
mengenang hujan di dinginnya kalbu

Selasa, 25 Agustus 2009

Prajuritku

sekilas tampak matamu bagai pedang
menyerang penjajah dari bumi tercinta ini
garis kerutan wajahmu sebagai saksi
betapa hidup perlu diperjuangkan
katamu," betapa penjajah adalah benalu
mengikis dan menerkam tubuh dan roh kita."
aku pun diam, karena cerita tak kan usai sebelum fajar menyingsing di selimutmu
kulihat kau saat tidur
kadang igauan dan terikan MERDEKA lantang kau ucapkan
hymne lagu perjuangan bagai semangat mudamu yang takkan pupus
sekarang,
kau tertidur dalam kabut dingin di pusaramu
terlihat tongkat bambu runcing dengan sang saka
lirih aku berkata
"Selamat jalan Kek, semoga biji yang kautanam kan mekar saat senja nanti".

Kamis, 20 Agustus 2009

Karena Angin

angin nakal singkap kebayaMu
misteri itu pun samar kulihat
walau remang cuaca
mampu tuk kerjabkan mata hati
ah, Kau tersenyum bagai gadis kecil
menari dan meloncat bagai menjangan
ajari aku tarianMu
ajari aku nyanyianMu
ajari aku semuanya
diam-diam, angin nakal kembali singkap kebayaMu lagi
tapi dengan tenang Kau pergi di ujung fajar pagi ini

Rabu, 19 Agustus 2009

Mantra Pengemis

komat-kamit seakan keluarkan keluh di dada
bagai air bah yang ingin membuncah keluar
suara tangis yang tak terdengar
suara gundah yang terekam dalam mantra
oh, hidup
kenapa buat robekan masa depan
tercecer di setiap imaji mimpi
oh, hidup
bagai belantara yang terberangus
terbakar dalam nestapa
oh, hidup
ingin selesaikan satu detik lagi
agar saat reinkarnasi nanti
menjadi raja di lain dunia

Selasa, 18 Agustus 2009

Sisakan

sisakan embun di tanganku ini
kan kubuat sebuah danau yang penuh kasmaran
sisakan tetes air matamu
kan kubuat sebuah samudera pengampunan ilahi
sisakan semua sobat
memberi adalah kekayaan hati
mengikat perjanjian kekal
dalam setiap batas cakrawala

Penantian

getas dan kaku
diam di dinginnya batu
merajam kekilafan masa lalu
garami biar mati kaku

sesal tak terperi
menyobek catatan harian
bakar hingga telanjang
sebar dalam tenangnya laut

jika waktu telah usai
batas nyata dan ilusi makin menipis
ku mau Kau di sini
temani rohku kembali padaMu

Rinduku

gigil malam tadi
semburatkan imaji
kekalkan janji di ujung altarMu
kasih, rindu yang tak terucap
bekukan rasa hingga membekas dalam nafas
menari dalam dekapan tubuhmu
gelorakan kasih yang tak terucap
kasih,
di dermaga ini
biduk t'lah siap arungi
kepastian dalam harapan

( untuk Cantikku )

Senin, 17 Agustus 2009

Renungan Sang Waktu

Matahari bertanya pada sang pagi,” Apakah yang akan kau lakukan wahai Pagi?”
Sang pagi menjawab dengan santun diiringi suara kecapi pagi
,”Wahai matahari, akan kusapa daun-daun dan tetesan embun mahkotanya. Akan kuberikan segala waktuku untuk memberi alam ini agar tersenyum dan mengidungkan nyanyian kehidupan.
Kan kuberikan juga cahaya semangat pada kehidupan agar semakin mengartikan begitu indah waktu dan kesempatan tuk hidup ini.”
Matahari tersenyum atas jawaban Sang Pagi.
Dan lihatlah!
Alam kehidupan selalu menyambut pagi dan selalu mengucap syukur pada Sang Khalik bahwa hidup ini tak sia-sia untuk diberi arti dan makna.
Sang Waktupun memanggil matahari yang berubah menjadi Sang Bulan.
Sang Pagipun berubah menjadi Sang Malam.
Lalu kata Bulan pada Sang Malam
,” Wahai sahabatku, apakah yang kaupetik dari semua ini?”
Sang Malampun menjawab dengan santun diiringi suara kecapi malam
,”Wahai Sahabatku Bulan, aku semakin mengerti bahwa hidup adalah pengembaraan yang diiringi karya dan tugas. Jadi tugas dan karya adalah sebuah pengabdian yang mengakar dan menjiwai hidup ini. Bahwa segalanya akan berbuah dan buah itu harus berguna bagi sesama dan kehidupan.”
Sang Bulan yang bijakpun kembali tersenyum sama indah dengan senyum saat menjadi Matahari.
Ternyata bahwa hidup harus diisi dengan karya dan pengabdian yang tulus bagi sesama dan kebesaran Sang Pencipta.

Pengamen Tua

lagumu terdengar serak
seperti serpihan masa lalu yang telah berkarat
bercerita tentang harapan yang sirna
mencoba tengadahkan tetes air mata

kau bernyanyi lagi
berlari dan mengejar bus yang sekarat
lagumu adalah lagu sumbang
dingin seperti stalagtit yang menggantung di ujung gua

di bus yang biasa kau sambangi
sekarang tak terdengar lagi
lagu sumbang sudah terkubur
didekap dan dilebur dalam diam dan sepi

Kamis, 13 Agustus 2009

Nanti

tak selamanya gugur daun dalam satu musim
buat belalang berhenti memakan daunnya
ibarat hitung tetes embun yang pecahkan pasir
hati kian merintih saat mentari seakan enggan menyapa
hadirmu bukanlah sebuah kuncup yang mekar
hadirmu adalah bau tanah saat pagi
merembes dan hilang di senja sore
mari, kita buat pondok
yang tak hancur oleh rayap
tuk bubuhkan sukma yang tersenyum
menorehkan tanda agungMu

UntukMu

kabut pagi gigilkan hati
bersujud dalam diam
sebeku batu di pegunungan itu

pengembaraan ini ternyata tidak sia-sia
genggamkan kembang putih
bawa cerita yang ikrarkan perjuangan

kucoba kidungkan tembang ke surgaMu
walau nada nyaris tak berirama
tapi kulihat, Kau tersenyum di ujung cakrawala itu

EPISODE WAKTU

Saat bulan ranum di tepian malam

Dan angin yang sentuh makna hidup

Atau saat daun yang jatuh meranggas dari tubuhnya

Dan desah air mengalir di pematang hati

Ingin kutorehkan syair untukmu di keheningan

Bersama embusan Bayu yang gigilkan suara hati

Bersama deburan ombak yang gelorakan semangat dan kejujuran

Bersama kepakan sayap burung yang pulang ke sarang

Dan bersama fajar yang tersenyum di bukit itu

Bayu, ombak, burung, dan fajar

Suatu roda yang menggelinding dalam ketidakpastian

Mencoba merenda segala yang fana

Membungkus dalam hening dan ikat makna dalam karang

Sobat, tahukah kau?

Saat ibu kehidupan mengandung

Saat langit merah terkuak

Saat semesta menyambut kehidupan

Saat titik hidup dan mati tak ada batasnya,

Kaulah Bayu yang dengarkan tembang cinta

Kaulah Bayu yang bersemayam di palung kehidupan

Kaulah Bayu yang keluarkan tangis di fananya dunia.

Waktupun bergulir perlahan nan pasti

Saat hidup kau cecap

Saat kau injakkan bersahabat dengan kenyataan

Saat kau rasakan dinginnya nurani

Kaulah Ombak dengan semangat mudamu

Kaulah Ombak tuk gulung segala kepahitan hidup

Kaulah Ombak tenggelamkan garam kehidupan

Ada waktu di mana sauh harus kau tambatkan

Ada waktu di mana layar harus kau gulung

Dan ada waktu kau ceritakan tanah asing yang kau labuhi

Kaulah Burung yang setia tuk pulang

Kaulah Burung yang ceritakan dongeng pada kami

Kaulah Burung yang terpekur di heningnya malam

Saat kau terbangun di pagi hari

Saat bagaskara dengan malunya menyembul di bukit itu

Saat kicauan burung buyarkan malam tadi

Saat Sang Khalik menyambut segala doa dan persembahan

Kaulah Fajar yang gemakan hidup baru

Kaulah Fajar yang lengkapi hidup dengan segala karya dan tugas

Kaulah Fajar yang mengidungkan tembang kehidupan

Sobat, jika kidung itu telah selesai kau nyanyikan

Bersama cahaya kunang-kunang yang menari dengan peri kecil

Dan saat alunan musik kehidupan telah mengalir dalam hening dan diam

Segala doa selalu terucap dalam hati kami

Debu Gerbong Kereta Api

antara Jakarta dan Jogja
tersimpan perjalanan yang menyisakan kenangan
berdansa dan tertidur di negeri impian
menderit di ujung rel, terjal

kami adalah debu-debu gerbong ini
mencoba mengurai benang kusut ekonomi
berteman dengan serdadu mati
menari dengan tatapan yang kosong

ah, berjuta-juta tubuh terbujur dan meringkuk kaku
mencoba tidurkan kepenatan
merenda mimpi di sebuah kota impian
coba prasastikan hidup yang lebih baik ?