Saat bulan ranum di tepian malam
Dan angin yang sentuh makna hidup
Atau saat daun yang jatuh meranggas dari tubuhnya
Dan desah air mengalir di pematang hati
Ingin kutorehkan syair untukmu di keheningan
Bersama embusan Bayu yang gigilkan suara hati
Bersama deburan ombak yang gelorakan semangat dan kejujuran
Bersama kepakan sayap burung yang pulang ke sarang
Dan bersama fajar yang tersenyum di bukit itu
Bayu, ombak, burung, dan fajar
Suatu roda yang menggelinding dalam ketidakpastian
Mencoba merenda segala yang fana
Membungkus dalam hening dan ikat makna dalam karang
Sobat, tahukah kau?
Saat ibu kehidupan mengandung
Saat langit merah terkuak
Saat semesta menyambut kehidupan
Saat titik hidup dan mati tak ada batasnya,
Kaulah Bayu yang dengarkan tembang cinta
Kaulah Bayu yang bersemayam di palung kehidupan
Kaulah Bayu yang keluarkan tangis di fananya dunia.
Waktupun bergulir perlahan nan pasti
Saat hidup kau cecap
Saat kau injakkan bersahabat dengan kenyataan
Saat kau rasakan dinginnya nurani
Kaulah Ombak dengan semangat mudamu
Kaulah Ombak tuk gulung segala kepahitan hidup
Kaulah Ombak tenggelamkan garam kehidupan
Ada waktu di mana sauh harus kau tambatkan
Ada waktu di mana layar harus kau gulung
Dan ada waktu kau ceritakan tanah asing yang kau labuhi
Kaulah Burung yang setia tuk pulang
Kaulah Burung yang ceritakan dongeng pada kami
Kaulah Burung yang terpekur di heningnya malam
Saat kau terbangun di pagi hari
Saat bagaskara dengan malunya menyembul di bukit itu
Saat kicauan burung buyarkan malam tadi
Saat Sang Khalik menyambut segala doa dan persembahan
Kaulah Fajar yang gemakan hidup baru
Kaulah Fajar yang lengkapi hidup dengan segala karya dan tugas
Kaulah Fajar yang mengidungkan tembang kehidupan
Sobat, jika kidung itu telah selesai kau nyanyikan
Bersama cahaya kunang-kunang yang menari dengan peri kecil
Dan saat alunan musik kehidupan telah mengalir dalam hening dan diam
Segala doa selalu terucap dalam hati kami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar